Saturday, July 20, 2013

Blessing in Disguise

Juara Harapan 3 #1DFanficContest13 

by Stefani Sarilin , 18 

LILS


“Selamat malam, apa kalian sudah siap untuk  memesan?” tanya seorang pelayan kepada empat pria muda di deretan meja VIP.
 “Harry, apakah kau sudah mendapat kabar dari Liam? Ini bukan seperti Liam, tidak biasanya ia terlambat ke acara makan malam. Kau tahu, dia kan sangat tepat waktu,” kata Zayn.
“Kurasa belum. Kami sedang menunggu satu teman lagi,” jawab Niall ramah kepada pelayan itu.
“Baiklah. Kalian bisa memanggilku lagi apabila kalian sudah siap memesan,” jawab pelayan itu sopan seraya tersenyum dan berlalu dari meja One Direction di restoran Le Cercle, salah satu restoran termahal di London.
“Liam yang mengajak kita janjian makan malam di restoran ini, tapi dia sendiri yang terlambat,” gerutu Louis kesal karena sudah menunggu Liam hampir 45 menit.
“Liam baru saja mengirimkan SMS kepadaku. Guys, kurasa kita bukan hanya menunggu satu orang lagi, tapi dua. Liam mengajak seorang gadis untuk makan malam bersama kita,” seru Harry.
“Seorang gadis? Wow, Liam! Sekarang aku mengerti mengapa Liam meminta kita untuk makan malam di restoran mahal seperti ini,” ujar Louis sambil tertawa lebar.
“Tapi menurutku, kalau Liam sampai mengajak seorang gadis untuk diperkenalkan kepada kita berarti gadis ini sangat spesial untuk Liam. Dia serius dengan gadis ini,” jawab Harry santai sambil membolak-balik daftar menu.
“Kalian punya ide siapa gadis yang diajak Liam untuk bertemu kita?” Niall melempar pertanyaan.
Zayn, Harry, Louis kompak menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Niall.  
“Funny thing is, aku jadi lebih tidak sabar bertemu gadis itu daripada bertemu Liam,” celetuk Zayn disambut dengan tawa lebar tiga anggota One Direction yang lain.
  “Hi guys!” sapa Liam menghampiri meja One Direction. “Aku minta maaf sekali sudah membuat kalian menunggu hampir satu jam,” ujar Liam tulus.
“Permintaan maaf diterima, Liam. Sekarang kenalkan kami dengan gadis yang berdiri di sampingmu. Dia tamu kehormatan kita hari ini kan?” ujar Niall meledek Liam. Wajah Liam langsung memerah.
“Guys, ini Victoria Giggs. Dia salah seorang teman masa kecilku di Wolverhampton dan Victoria, kau mungkin sudah tahu nama-nama dari keempat temanku ini, tapi kali ini aku akan memperkenalkan mereka kepadamu secara resmi. Ini Zayn, Harry, Louis, dan Niall,” kata Liam.
“Hi, Victoria!” ujar keempat anggota One Direction kompak. Mereka kemudian beralih menatap Liam penuh arti, berharap ada kesempatan untuk meledek Liam habis-habisan.
“Hi, guys! Kalian bisa memanggilku Vika,” gadis itu mengulurkan tangannya, menjabat tangan keempat sahabat Liam.
Zayn merasa ia pernah melihat Vika beberapa hari yang lalu, tapi ia tidak ingat di mana. Apa ia salah satu teman Perrie? Ia tidak yakin juga. Zayn mengeluarkan iPhone-nya dan mulai mengetik nama ‘Victoria Giggs’ di mesin pencari Google. Ia cukup terkejut dengan hasil pencariannya. Sebuah artikel Wikipedia tentang Victoria Giggs. Zayn mulai membaca artikel itu. Victoria Giggs adalah seorang model pendatang baru di industri fashion UK. Ia lahir tahun 1995, lebih muda 2 tahun dari Liam. Tingginya 5 kaki 8 inchi. Zayn memperhatikan warna mata gadis itu, ternyata sama seperti informasi di Wikipedia, biru laut. Hal yang sedikit berbeda dari Wikipedia adalah rambut Victoria. Di artikel itu, Victoria yang terlihat di foto adalah seorang gadis brunette dengan rambut lurus panjang. Namun Victoria yang di hadapan Zayn sekarang berambut platinum blonde. Informasi terakhir yang ditunjukkan Google adalah Victoria akan tampil di peragaan busana Burberry di Paris Fashion Week minggu depan. Zayn baru ingat, ia pernah melihat Victoria 3 hari lalu di peragaan H&M busana di London, di mana Little Mix menjadi salah satu pengisi acaranya.
 Acara makan malam berlangsung lancar. Meskipun Victoria adalah seorang model, namun tidak ada kesan angkuh dari perilakunya. Ia ramah, berpengetahuan luas, dan selera humornya sangat baik. Ia tidak malu untuk tertawa lebar melihat kekonyolan yang dilakukan The Boys selama makan malam. Victoria juga mampu melontarkan lelucon-lelucon yang membuat The Boys tertawa terbahak-bahak. Mereka berenam sangat menikmati acara makan malam itu, terutama Liam. Setiap kali Victoria mengucapkan sesuatu, Harry memperhatikan mata Liam yang memandang dengan Victoria tak berkedip. Harry bisa melihat bahwa gadis ini sangat istimewa bagi Liam, sangat mudah untuk melihat kalau Liam sangat menyukai Victoria.
 “Guys, aku rasa aku harus melewatkan makanan penutup bersama kalian.  Aku harus terbang ke Paris besok pagi.  Ini sangat menyenangkan, aku harap kita bisa sering berkumpul bersama,” ujar Victoria berseri-seri. Liam sangat lega karena Victoria dan  anggota One Direction bisa akrab satu sama lain.
“Have a safe flight Victoria,” kata Niall, “Aku rasa pasti kita akan sering bertemu lagi nantinya,” ia berkedip kepada Liam.
“Aku akan mengantar Victoria pulang. Kalian selamat menikmati makanan penutupnya. Ngomong-ngomong, bisakah kalian memesankan chocolate lava cake untukku nanti di rumah?” tanya Liam.
“Kalau kami ingat ya,” ledek Louis.
Liam dan Victoria baru saja membuka pintu dan melangkahkan keluar dari restoran Le Cercle. Mereka dikejutkan dengan blitz kamera dari puluhan paparazzi yang ingin mengambil foto pasangan baru ini. Paparazzi terus mengerumuni dan mendorong Liam dan Victoria. Liam menggandeng Victoria, berusaha melindunginya agar mereka tidak terpisah di tengah kerumunan paparazzi. Begitu Liam menggandeng Victoria, paparazzi bertambah gila mengerumuni pasangan ini. “Liam, Victoria, sudah berapa lama kalian bersama?” seru seorang paparazzi. Liam tidak menghiraukan pertanyaan tersebut dan terus berjalan ke mobil sambil menggandeng tangan Victoria.
Liam dan Victoria akhirnya bebas dari kejaran paparazzi setelah Liam berhasil mengemudikan mobilnya keluar dari restoran Le Cercle. Baru saja Liam menarik napas lega, tiba-tiba dari kejauhan seorang paparazzi nekad berdiri di tengah jalan dan mengambil foto dengan blitz. Liam yang saat itu sedang mengemudikan mobil dengan kencang, menginjak remnya secara mendadak, membanting setir mobilnya, berharap ia tidak akan menabrak paparazzi tersebut. Liam memang tidak menabrak paparazzi itu, tapi hasilnya mobil Liam menabrak tiang lampu jalan. Bagian depan mobil rusak berat. Liam tidak apa-apa, airbag dan sabuk pengaman menyelamatkannya dari luka benturan. Liam melihat ke samping kanannya, mengecek keadaan Victoria.  “Victoria, kau tidak apa-apa?” tanya Liam sambil mengguncang-guncang tubuh Victoria. Victoria tidak memberikan respons apapun.  Liam menyibakkan rambut Victoria dan ia melihat gadis itu pingsan dengan darah mengalir di pelipisnya.
Paramedis datang sekitar 15 menit setelah kecelakaan, mereka mengeluarkan Liam dan Victoria yang masih tidak sadarkan dari dalam mobil. Kemudian ambulans membawa Liam dan Victoria ke Royal Hospital London untuk mendapatkan penanganan lebih intensif. Victoria yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter yang memeriksa Liam mengatakan bahwa kondisi Liam cukup stabil dan ia tidak perlu diopname, namun pihak manajemen Liam meminta agar Liam diopname semalam di rumah sakit demi memastikan kondisi kesehatannya.
Hanya dalam waktu beberapa jam saja, berita kecelakaan mobil yang dialami Victoria dan Liam menjadi headline berita hiburan di seluruh dunia. Account twitter media hiburan seperti @EOnline dan @PerezHilton terus memberikan update berita tentang kecelakaan Liam di setiap tweet mereka. Hashtag #GetWellSoonLiam dan #DirectionersPrayForLiam menjadi trending topic worldwide di twitter.
Keesokan paginya Harry, Zayn, Louis, dan Niall sudah berkumpul di samping tempat tidur Liam di ruang perawatan VIP. “Selamat pagi Liam!” ujar mereka penuh semangat setelah Liam membuka matanya. Liam tertawa, “Guys, mengapa kalian tidak menginap di sini semalam? Kalian kan tahu, aku tidak bisa tidur tanpa mendengar suara dengkuran Harry,” candanya. “Apa kalian sudah mendengar kabar tentang keadaan Vika?” lanjut Liam.
“Victoria baik-baik saja. Dokter sudah menangani luka di pelipisnya dengan beberapa jahitan. Kemarin ia sempat tak sadarkan diri karena shock berat,” ujar seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Pria tersebut adalah James Wilshere, General Manager Syco Records – manajemen dari One Direction.
“Hai James! Terima kasih sudah datang menjenguk,” kata Liam dari tempat tidurnya, “Lalu, di mana Vika sekarang? Aku ingin menemuinya untuk melihat keadaannya dan minta maaf  atas kejadian semalam,” lanjutnya.
“Jangan dulu Liam, Aku rasa kau belum bisa menemui Victoria sekarang, setidaknya selama 6 bulan ke depan," jawab James dengan nada serius.
 “Ada apa James? Kau bilang Victoria baik-baik saja, tapi kenapa aku baru bisa bertemu dengannya 6 bulan lagi?” Liam bertanya dengan nada tinggi.
“Kendalikan dirimu, Liam, kau sedang berbicara dengan seorang petinggi manajemen,” bisik Zayn menenangkan Liam.
“Semalam seseorang dari agensi Victoria meneleponku. Aku yakin pasti kalian semua kalau hari ini seharusnya Victoria berada di Paris melakukan pemotretan untuk Teen Vogue. Karena kecelakaan ini, Victoria tidak bisa menghadiri pemotretan dan agensi Victoria harus membayar uang ganti rugi kepada Teen Vogue,” James menghela napas panjang sebelum menyelesaikan kalimatnya, “Bagian terburuknya, agensi Victoria menganggap Liam hanya akan membawa pengaruh buruk bagi Victoria dan mereka memintaku untuk menanda tangani perjanjian bahwa setidaknya selama 6 bulan ke depan, Liam tidak akan bertemu atau melakukan komunikasi apapun dengan Victoria. Awalnya aku berpikir ini permintaan yang tidak masuk akal, tapi aku telah berbicara dengan Simon dan ia setuju untuk menanda tangani perjanjian tersebut. Aku benar-benar minta maaf, Liam. Aku tahu kau bukan orang yang seperti agensi Victoria pikir,” James mengakhiri kalimatnya dengan lirih.
“Aku bisa mengerti, James,” balas Liam datar.
“Satu hal lagi Liam, Simon memintamu untuk kembali ke Wolverhampton, beristirahat selama sebulan. Saat ini beritamu adalah target utama para paparazzi. Simon khawatir mungkin kau masih belum siap menghadapi kejaran paparazzi lagi setelah kejadian semalam. Pihak manajemen sudah setuju untuk memundurkan jadwal tur Take Me Home ke bulan depan. Apabila keadaan sudah tenang, kau bisa segera kembali muncul di hadapan publik,” ujar James.
Liam merasa permintaan agensi Victoria agar Liam menjauhi gadis itu benar-benar tidak adil karena tidak ada sedikit pun niat Liam untuk membuat Victoria celaka. Namun, Simon sudah menyetujui permintaan tersebut dan Liam tidak berani membantah keputusan Simon Cowell. Liam meyakinkan dirinya kalau ia tetap positif pasti akan ada hikmah dari masalah yang sedang dihadapinya. Liam tersenyum, berusaha keras membesarkan hatinya, “Well, aku rasa memang butuh liburan di rumah,” ujar Liam semangat.
***
Selama tiga hari pertama di Wolverhampton, Liam menghabiskan waktunya berpikir keras menemukan cara bagaimana ia bisa menghubungi Victoria. Ia mencoba menghubungi Victoria lewat telepon atau SMS, tapi sepertinya Victoria telah mengganti nomor teleponnya. Victoria juga telah memblokir Liam di facebook dan twitter-nya. Liam benar-benar frustrasi, ia harus minta maaf kepada Victoria dan menjelaskan bahwa ia tidak seperti apa yang dituduhkan oleh agensi Victoria.
“Ibu, apakah keluarga Giggs masih tinggal di ujung jalan?” tanya Liam tiba-tiba.
“Ibu rasa masih. Ada apa Liam?” ujar Karen Payne balik bertanya pada putranya yang terlihat galau berat.
“Thanks, Mum! Aku akan pergi dulu sebentar,” seru Liam sambil berlari ke luar rumah. Liam berlari sejauh 200 meter dari rumahnya ke rumah keluarga Giggs. Rumah Victoria masih terlihat sama seperti terakhir Liam mengunjunginya sebelum audisi X Factor UK. Dalam pikiran Liam, di sini Wolverhampton, bukan London, tidak ada James atau orang-orang dari agensi model Victoria yang akan menghalangi Liam untuk menemuinya. Liam merasa ia harus membayar hutang permintaan maaf dan penjelasan kepada gadis itu. Liam mengetuk pintu rumah keluarga Giggs.
“Ada yang bisa kubantu?” seorang gadis membuka pintu rumah keluarga Giggs, tapi ia bukan Victoria.
“Hai, aku Liam Payne,” sapa Liam ramah.  
“Ya, aku tahu. Kau anggota One Direction itu kan?” balas gadis itu.
“Yep, kau benar, sekali” Liam tertawa kaku. “Apa Vika ada di rumah?” lanjutnya.
“Sejak Vika dikontrak oleh Wilhelmina Models, ia hampir sudah tidak pernah di rumah lagi. Kemarin Vika menelepon dari London, ia berangkat ke Milan hari ini,” jawab gadis itu lagi, “Ngomong-ngomong, aku Dianna. Kau bisa memanggilku, Didi,” ujarnya. “Secara teknis, Victoria adalah kakakku, well, kakak tiri. Ibuku menikah dengan ayah Vika 3 bulan yang lalu,” kata Didi.
“Hai, Didi. Senang berkenalan denganmu,” Liam menjulurkan tangannya, berjabat tangan dengan Didi. Secara fisik, Didi tampak sangat berbeda dengan Vika. Didi memiliki rambut pirang bergelombang dan mata hijau yang besar. Dari postur, Liam bisa menebak dengan mudah kalau Didi adalah atlet di sekolahnya.
“Ada lagi yang bisa kulakukan untukmu? Didi menawarkan bantuan.
“Kurasa tidak, tapi terima kasih, Didi. Sampai bertemu lagi,” Liam berpamitan meninggalkan rumah keluarga Giggs.
***
Selama liburan ini, Liam punya kebiasaan baru. Ia jadi lebih rajin berolahraga, terutama lari pagi. Pagi itu Liam sedang menjalankan ritual lari pagi di taman dekat rumahnya, ketika tiba-tiba kepalanya tertimpuk bola.
“Ya Tuhan, maaf sekali. Aku benar-benar tidak sengaja,” seru seorang gadis berlari kencang menghampiri Liam.
“Didi? Apakah itu kau? Sedang apa kau di sini?” tanya Liam kaget melihat Didi dengan jersey sepakbola bertuliskan ST CLAIRE’S HIGH SCHOOL dan sarung tangan kiper.
“Sekolahku akan mengadakan pertandingan amal dan banyak pencari bakat dari universitas terkenal yang hadir. Aku harus banyak berlatih supaya bisa memberikan penampilan maksimal,” jawabnya. “Terima kasih Liam. Aku tidak tahu itu kau. Kalau aku tahu, pasti aku akan menendang bolanya lebih kencang lagi,” canda Didi ketika Liam mengembalikan bolanya. Mereka berdua tertawa lepas.
“Liam, apakah kau baru saja berlari sampai London? Kau tampak sangat lelah dan ini sudah hampir pukul 12, tidak biasanya kau berolahraga selama ini,” tanya ibu Liam ketika melihatnya masuk rumah.
“Tadi aku bertemu dengan Didi di taman dan ia mengajakku bermain bola. She’s a cool girl,” kata Liam.
 “Didi? Dianna Giggs? Ya, dia anak yang baik. Dia baru pindah ke sini 3 bulan lalu. Gadis yang penuh semangat. Kau tahu, dia juga penggemar klub sepakbola West Bromwich Albion sepertimu,” ujar Karen Payne sambil menyeruput tehnya.
Liam baru saja hendak merebahkan diri ke ranjang saking lelahnya menjadi partner Didi berlatih tendangan penalti dan telepon genggamnya berdering. “What is up, Harry?” sapa Liam. “Hey, mate. Any news from Vika?” tanya Harry penasaran.
“Nope. Kurasa Vika sudah mengganti nomornya dan memblokirku di account twitter dan facebook nya. Kemarin aku berbicara dengan adik Vika dan ia bilang Vika sekarang berada di Milan,” jawab Liam kecewa.
“Kau kenal dengan adik Vika? Itu bagus Liam!” kata Harry yang mendadak semangat.
“Dianna? Ya aku baru berkenalan dengannya kemarin. Apa maksudmu kalau aku kenal dengan Didi adalah hal yang bagus?” Liam balik bertanya.
“Kau bisa minta bantuan Dianna untuk menjadi perantaramu menghubungi Vika. Vika bisa saja menolak untuk melakukan kontak apapun denganmu, tapi ia tidak mungkin menolak adiknya kan?” Harry menjelaskan.
“Ah, bodoh sekali! Kenapa aku tidak memikirikan ini sebelumnya? Super sekali, Harry! Aku mengerti sekarang. Aku harus pergi, aku harus berbicara dengan Didi. Bye Harry,” Liam memutus pembicaran dengan terburu-buru.
***
“Hi Didi, it’s Liam,” Liam membuka pembicaraan dengan Didi di telepon. “Hi Liam! What’s up?” jawab Didi di seberang telepon. “Aku ingin menraktirmu makan, apakah kau ada acara malam ini?” tanya Liam dengan nada suara yang cool. “Sure, Liam. Aku selalu punya waktu untuk makan malam gratis,” jawab Didi polos.
Liam tertawa mendengar ucapan Didi, gadis itu selalu berhasil membuat Liam tertawa dengan ucapan-ucapan yang polos dan apa adanya, sesuatu yang Liam sudah lama tidak dengar setelah ia menjadi terkenal seperti sekarang. Semua orang jadi bersikap sangat hati-hati ketika mereka berinteraksi dengan Liam. “OK Didi, aku akan menjemputmu di rumah jam tujuh malam. See ‘ya!” Liam mengakhiri pembicaraan.
“This is not a date, right?” tanya Didi spontan kepada Liam sebelum masuk ke dalam McDonald’s, tempat Liam menraktirnya malam itu. “Nope. Why?” jawab Liam yang kaget mendengar pertanyaan Didi. “If I go on a dinner date with a world class celebrity, like the member of One Direction, he must take me to a fancy restaurant,” Didi tertawa lebar mengucapkan ini, tampak giginya yang menggunakan behel berwarna putih. “No Didi, it’s not a date,” ujar Liam.
 “Sebenarnya apa motifmu, Liam?” tanya Didi tiba-tiba di tengah makan malam. “Motif? Apa maksudmu?” Liam batuk-batuk tersedak Coca Cola yang sedang diminumnya. “Aku seorang  kiper, Liam. Aku dilatih untuk membaca pergerakan orang lain. Semua yang kau lakukan ini tampak sangat mencurigakan untukku,” Didi menjelaskan.
Ada jeda yang cukup lama setelah Didi mengucapkan kalimat terakhirnya. Liam menaikkan alisnya dengan canggung, menarik napas panjang, dan mulai berbicara. “OK, Didi. You got me. Sebenarnya aku ingin minta bantuanmu soal Vika. Sejak kecelakaan, aku tidak bisa menghubunginya sama sekali. Itulah kenapa aku datang ke rumahmu dan mencari Vika karena aku perlu berbicara dengannya, meminta maaf dan menjelaskan kalau aku tidak seperti apa yang agensinya tuduhkan kepadaku. Aku akan menulis penjelasanku di surat dan aku ingin kau memberikan surat itu kepada Vika. Kau mau menolongku?” kata Liam dengan nada memohon.
“Kau menyukai Vika?” tanya Didi.
“Sangat,” jawab Liam pendek.
“Baiklah aku akan menolongmu, tapi dengan satu syarat. There’s this guy in my school, named Aiden. I have a huge crush on him, tapi sepertinya Aiden menyukai orang lain, namanya Trisha. Gadis itu penyanyi solo terbaik di sekolah. Minggu depan ada talent competition di sekolah dan aku ingin kau bernyanyi denganku di kompetisi itu,” ujar Didi malu-malu.
 “Jadi ini adalah misi ‘Aiden, I’m better than that girl’?” Liam balik meledek Didi yang wajahnya memerah. Didi mengangguk dengan cepat, “Are you in or not, Liam Payne?” tanya Didi kesal. “You got a deal,” Didi dan Liam berjabat tangan menyetujui perjanjian mereka.
“Apakah kedua orang tua kalian membenci aku karena telah mencelakakan Vika?” tanya Liam. “Apakah aku terlihat seperti orang yang membencimu?” balas Didi cepat. Liam menggelengkan kepalanya. “Begitu juga dengan orang tuaku,” lanjut Didi.
***
Liam dan Didi sepakat untuk berlatih setiap hari setelah jam pulang sekolah di rumah Didi. “Hei Didi, aku tidak pernah melihat orang tuamu, ke mana mereka?” tanya Liam. “Orang tuaku sedang ke Berlin menghadiri konferensi dokter gigi tingkat dunia, tapi mereka janji akan pulang tepat waktu untuk menyaksikan penampilanku di talent competition minggu depan,” jawab Didi. “Kau sudah pilh lagu yang akan kita nyanyikan?” Liam bertanya lagi. “Yep, lagu ini,” ujar Didi sambil memperlihatkan sebuah video youtube di laptop nya. Liam melihat video itu dan tampak 2 bintang youtube Megan Nicole dan Jason Chen sedang berduet menyanyikan lagu One Thing. “Wow! Aku tidak tahu kalau One Thing bisa cocok juga dijadikan lagu duet. Aku baru melihat video ini pertama kali, tapi kurasa mereka melakukan pekerjaan yang baik mengcover lagu kami,” komentar Liam senang. “Sekarang, aku ingin mendengar kau bernyanyi,” pinta Liam kepada Didi. “Kau serius? Aku adalah penyanyi solo terburuk di dunia,” seru Didi. “Baiklah sekarang tunjukkan kepadaku seberapa buruk kau bernyanyi,” Liam memaksa.
Didi meminjam gitar yang dibawa Liam dan mulai menyanyikan lagu Taylor Swift – You Belong With Me. Suara Didi sebenarnya tidak seburuk apa yang ia gambarkan. Ia memiliki suara yang pure dan penjiwaannya juga baik, mungkin karena lagu itu juga cocok dengan situasi Didi sekarang. Didi tampak seperti Taylor Swift, tapi dengan aksen British. Liam tersenyum memperhatikan penampilan Didi, lalu ia bertepuk tangan begitu Didi selesai bernyanyi. “Well done, Dianna Swift,” puji Liam tulus.
“Oh iya Didi, aku sudah selesai menulis surat untuk Vika,” ujar Liam seraya mengeluarkan sepucuk surat dari kantong jeans nya. “Boleh aku buka suratnya?” tanya Didi. “I don’t mind,” jawab Liam santai.
Talent competition semakin dekat, Didi dan Liam pun semakin akrab. Ibu Liam benar, Didi adalah gadis yang baik dan penuh semangat. Celetukan polos Didi selalu berhasil membuat Liam tertawa. Liam senang menghabiskan waktunya bersama Didi. Sebulan lalu, Liam yakin 100% kalau perasaannya hanya untuk Victoria, namun sekarang kehadiran Didi membuat Liam meragukan perasaannya sendiri. Liam berusaha kembali fokus pada tujuan utamanya berkenalan dengan Didi, yaitu untuk memperbaiki hubungannya dengan Victoria. Lagipula, Didi dan Liam tidak akan terjadi, Didi juga sudah menyukai orang lain.
***
“Hei Didi, kau yakin kalau peraturan kompetisi memperbolehkan kau berduet dengan penyanyi profesional?” Liam menghampiri Didi yang sedang bersiap-siap di backstage. “Ayolah Liam, ini kan cuma talent competition sekolah. Satu-satunya peraturan yang harus kau taati adalah jangan mempermalukan dirimu di hadapan seluruh sekolah,” jawab Didi santai sambil merapikan rambutnya. Untuk penampilan mereka, Liam memilih mengenakan polo shirt berwarna ungu sesuai warna favoritnya, dengan sepatu Converse dan Didi mengenakan floral dress berwarna pink dengan sepatu flats. “Vika sudah membalas suratmu,” Didi memberikan sebuah amplop kepada Liam. “Berjanjilah padaku, kau baru akan membaca surat itu setelah kita tampil,” tegasnya. Liam mengangguk cepat dan segera menyimpan surat itu di saku jeans nya.
Panitia acara sudah memberikan kode kepada Liam dan Didi bahwa giliran mereka sebentar lagi. Didi dan Liam berdoa sebelum mereka mulai berjalan menuju panggung. “Kau terlihat cantik Didi,” kata Liam malu-malu sampai ia tidak berani menatap Didi. “Benarkah? Thanks, Liam. Ini sebenarnya baju Victoria,” jawab Didi tersenyum manis. “Let’s break a leg!” lanjut Didi dengan penuh semangat sambil menarik tangan Liam ke atas panggung. Liam tidak bisa melawan perasaannya untuk Didi, jantungnya berdebar kencang.
Murid-murid St. Claire’s High School yang perempuan berteriak histeris, ketika melihat Liam naik ke atas panggung. Liam adalah idola seluruh penduduk kota Wolverhampton. “Selamat malam semuanya, aku Dianna Giggs. Tentu saja kalian semua sudah kenal dengan partner duetku, Liam Payne,” kata Didi mengawali penampilannya.  Didi menyanyikan lagu “One Thing” secara akustik dengan iringan gitar Liam. Didi menyanyikan sebagian besar bagian dari lagu itu dan Liam membantu di bagian harmonisasi. Berkat latihan bersama Liam, bakat menyanyi Didi semakin terasah. Chemistry Liam dan Didi terlihat natural di panggung, mereka berdua terlihat sangat menikmati kebersamaan satu sama lain. Tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan Didi dan Liam. Didi kaget melihat respons yang sangat positif dari para penonton. “Terima kasih banyak, Liam,” bisik Didi.
Begitu kembali ke backstage, ternyata sudah ada tamu istimewa menanti Liam dan Didi. “Niall, Louis! What a surprise!” wajah Liam langsung berseri-seri melihat kedatangan dua sahabatnya. Liam segera memperkenalkan Didi pada Louis dan Niall. “Kami juga punya kejutan lain untukmu,” ujar Niall. Louis dan Niall saling bergerak ke samping dan ternyata di belakang mereka ada Victoria. Liam langsung tersenyum lebar melihat Victoria, sedangkan Didi terlihat cemas. Didi berusaha menutupi kecemasannya dengan tersenyum canggung dan memeluk Victoria. “Vika, mengapa ayah dan ibu tidak bersamamu? Aku tidak  melihat mereka dari tadi,” tanya Didi. “Didi, mereka masih di Berlin. Kebetulan aku mendapat jatah libur tiga hari, jadi aku segera pulang ke Wolverhampton karena ingin melihat penampilan adikku. Benar kan kataku, kau sangat berbakat, Didi,” ujar Vika. “Victoria, bisakah aku berbicara sebentar denganmu?” pinta Liam dengan nada serius. Vika dan Liam segera berjalan meninggalkan Niall, Louis, dan Didi di backstage.
“Penampilan yang hebat, Dianna. Kau sangat cocok dengan Liam,” puji Louis. Didi tersenyum sopan “Terima kasih,” balasnya pendek. Mata Didi tidak berhenti memandangi Liam dan Vika yang sedang berjalan berdua keluar ruangan. “Didi, kau luar biasa!” seorang murid laki-laki datang menghampiri Didi juga. “Thank you so much, Aiden,” balas Didi datar. “Hei Didi, apakah kau tertarik menonton pertandingan Wolverhampton akhir pekan ini? Mereka akan melawan Hull City. Kau mau kan Didi? ujar Aiden setengah memaksa. “Baiklah Aiden, tapi hanya kalau kau yang traktir tiketnya,” balas Didi sambil bercanda. “Tidak masalah, Didi. Sampai bertemu besok di kelas,” katanya. Setelah Aiden pergi, Didi kembali terlihat murung. “Didi, Liam pernah cerita kepada kami sebelumnya tentang alasan kau ikut talent competition ini. Apakah tadi itu orangnya? Dia baru saja mengajakmu jalan, tapi kenapa kau malah terlihat tidak bersemangat seperti ini?” tanya Niall penasaran. “Well, anggap saja aku berubah pikiran tentang Aiden dan tujuanku mengikuti kompetisi ini,” balas Didi murung. Niall dan Louis saling bertukar pandang, sepertinya mereka tahu apa dan siapa yang menyebabkan Didi seperti ini.
“Didi, bisakah kita bicara di luar?” kata Liam dengan nada serius dan wajah yang amat tegang. Didi terlihat makin cemas, wajahnya langsung pucat. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Didi menatap Niall dan Louis dalam-dalam, seolah memberi kode agar mereka menolong gadis itu.
“Aku mau kau mengaku sekarang,” Liam membuka pembicaraan seriusnya dengan Didi.
“Apa maksudmu, Liam?” tanya Didi sambil tertawa menutupi rasa takutnya.
“Jangan tertawa, Didi! Ini tidak lucu. Kau telah membohongiku,” Liam terdengar sangat marah.
“Aku tidak mengerti, aku tidak pernah membohongimu,” balas Didi.
“Aku baru berbicara dengan Vika dan dia bilang ia sama sekali tidak tahu kalau ada surat dariku,” kata Liam.
“Apakah kau sudah membaca surat yang kuberikan padamu?” tanya Didi.
“Untuk apa aku membacanya? Apapun isinya, aku tidak peduli lagi karena itu hanya karanganmu. Aku benar-benar kecewa Didi, kau tega membohongi dan memanfaatkanku,” Liam setengah berteriak di akhir kalimatnya.
“Kau benar Liam, aku memang memanfaatkanmu. Tapi kau harus ingat Liam, kau duluan yang memanfaatkanku untuk menghubungi Vika. Aku hanya bersikap adil, aku membantumu dan kau membantuku. Apa itu salah menurutmu? Sekarang aku minta kau baca surat itu,” Didi balas berteriak.
Nial mulai membuka surat yang diberikan Didi dan ia terkejut sekali,“Apa maksudmu, Didi? Tidak ada tulisan di kertas ini. Kau mau aku membaca apa?” tanya Liam kesal.
“Kertas itu kosong karena Vika memang tidak pernah membalas suratmu. Dan sekarang kau masih menuduhku mengarangnya? Aku memang tidak pernah menyebutkan kalau kau mengirim surat untuk Vika. Aku sudah mencoba mengungkit dirimu dalam pembicaraan kami, tapi Vika bilang kalau ia sudah tidak ingin membicarakanmu lagi di dalam hidupnya. Vika sudah punya pacar sekarang dan ia hanya menganggapmu bagian dari masa lalunya. Sebelum kau menuduhku, berteriak-teriak seperti orang gila di halaman sekolahku, seharusnya kau membaca surat itu. Aku sudah bilang kan kalau kau bisa membacanya setelah penampilan kita,” jawab Didi. Air mata mulai mengalir dari sudut mata Didi, tapi ia tetap berusaha tenang agar suaranya tidak tercekat.
“Lalu mengapa kau tidak jujur padaku dari awal?” tanya Liam lagi.
“Aku takut kalau aku tidak berhasil mendapatkan balasan surat dari Vika, kau akan membatalkan perjanjian kita. Sebenarnya aku senang menghabiskan waktu bersamamu, Liam. Namun sekarang itu sudah tidak ada artinya lagi, perjanjian kita sudah selesai. Aku sudah memberikan balasan surat Vika kepadamu dan kau juga sudah bernyanyi bersamaku. Kau bisa meninggalkanku sekarang. Good bye Liam. Thanks for everything,” Didi mulai berjalan meninggalkan Liam. Kali ini ia tidak bisa menguasai dirinya lagi, Didi menangis terisak. Liam diam saja, ia tidak melakukan apapun, apalagi mengejar gadis itu.
“Liam, kenapa kau tidak mengejarnya? Kau membiarkan seorang gadis berjalan malam-malam sambil menangis? Apakah hatimu terbuat dari batu?” Niall mengguncang-guncangkan tubuh Liam, ia benar-benar marah melhat Liam yang tidak peka pada perasaan Didi. “Untuk apa lagi? Didi telah membohongiku dan ia sendiri yang telah mengusirku dari hidupnya,” balas Liam sengit. Niall hampir saja menonjok Liam sebelum Louis mencegahnya. “Didi, tidak berbohong, Liam. Aku sudah berbicara dengan Victoria dan apa yang dikatakan Didi itu semua benar. Victoria memang sudah punya pacar sekarang dan ia hanya mengganggap kau sebagai masa lalunya. Bahkan Victoria sendiri yang bilang kalau kau lebih cocok dengan Didi daripada dengannya,” ujar Louis. “Apabila takdir memberikanmu seorang gadis seperti Didi, aku hanya berharap kau tidak mengacaukan kesempatanmu, Liam,” Niall menasehati sahabatnya.
***
“Didi! Kau harus dengar ini, One Direction akan menjadi pengisi acara di pertandingan amal sekolah kita,” Katie berlari dengan semangat menghampiri Didi di ruang ganti pemain.
“Benarkah? Aku kira sekolah kita tidak mampu membayar honor One Direction. Mereka kan artis terkenal,” balas Didi sinis sambil mengikat tali sepatu sepakbolanya.
“Oh, Didi! Apakah ini masih karena Liam? Kejadian itu sudah sebulan yang lalu, kau harus memaafkan Liam dan melanjutkan hidupmu,” Katie menasehati Didi. “Lagipula Coach Hudson bilang mereka mau tampil di acara sekolah kita secara gratis,”lanjutnya.
Selama pertandingan Didi tidak bisa berkonsentrasi karena ia terus-menerus memikirkan kalau nanti ia akan bertemu lagi dengan Liam. Kata-kata Liam ketika terakhir kali mereka bertemu sangat menyakiti perasaan Didi. Didi bukan orang yang gampang menangis, tapi Liam telah membuat Didi patah hati. Orang-orang bilang patah hati yang pertama adalah yang terberat dan itulah yang dialami Didi sekarang. Bertemu lagi dengan Liam tidak akan membantu Didi melupakan rasa sakit hatinya.
“Fokus Didi, tim membutuhkanmu untuk menjaga gawang. Hari ini banyak pencari bakat yang datang ke pertandingan. Kau tentu tidak mau mengacaukan kesempatanmu mendapat beasiswa sepakbola di Universitas Cambridge kan?” Coach Hudson menegur Didi dari pinggir lapangan. Penampilan Didi sangat buruk hari ini, mungkin terburuk selama karirnya sebagai kiper tim sekolah. Beberapa kali gawang Didi hampir kebobolan, kalau Katie, rekan satu tim Didi yang bermain sebagai bek, tidak membantu Didi untuk menghalau serangan tim lawan.
Begitu pula ketika penampilan One Direction di jeda paruh waktu, Didi hanya duduk di kursi pemain dengan wajah muram. Seluruh pemain dan para penonton lain berteriak histeris, melompat-lompat mengikuti irama lagu “One Way or Another” yang menghentak penuh semangat. Didi tidak berhenti menatap Liam dari kejauhan. Ia belum bisa melupakan Liam, tapi rasa sakit hati Didi membuatnya bingung harus membenci atau tetap menaruh perasaan pada Liam. Didi tidak tahu kalau sebenarnya Liam juga diam-diam memperhatikan Didi dari atas panggung. Liam merasa bersalah karena telah membuat Didi yang ceria, penuh semangat menjadi seorang yang pemurung.
Pertandingan amal St. Claire High School melawan Wolverhampton State School berakhir 2-0 untuk kemenangan St. Claire. Didi yang berhasil menguasai dirinya lagi, melakukan banyak penyelamatan gemilang di babak kedua.
Didi baru saja hendak berjalan meninggalkan lapangan sepakbola seusai pertandingan, ketika ia mendengar di belakangnya sebuah suara yang tidak asing menyanyikan salah satu lagu kesukaannya.
Girl I see it in your eyes you’re disappointed
‘Cause I’m the foolish one that you anointed with your heart
I tore it apart
And girl what a mess I made upon your innocence
And no woman in the world deserves this
But here I am asking you for one more chance
Didi dengan cepat mengenali kalau itu adalah suara Liam yang menyanyikan lagu “Gotta Be You” yang memang lagu kesukaan Didi di album pertama One Direction. Meskipun Didi sangat penasaran, tapi ia tidak berani menengok ke belakang karena ia takut akan menangis apabila melihat Liam. Didi tetap terus berjalan.

Can we fall one more time?
Stop the tape and rewind
Oh and if you walk away I know I’ll fade
‘Cause there is nobody else

It’s gotta be you
Only you
It’s got to be you
Only you
Liam terdengar sangat tulus menyanyikan lagu ini, ia benar-benar menyesal atas perbuatan buruknya dan berharap Didi mau memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki keadaan. Bgitu Liam selesai menyanyikan chorus pertama, Didi berbalik dan berjalan mendekati kelima anggota One Direction. Liam terlihat sangat lega ketika Didi akhirnya berbalik arah.
“Kau mau apa, Liam?” tanya Didi dingin.
“Kurasa kau melupakan pialamu, Dianna Swift,” Liam berusaha mencairkan ketegangan Didi dengan sedikit bercanda sambil memberikan piala juara talent competition tempo hari.
Mereka berdua berhasil menjadi juara pertama, tapi Didi tidak ada waktu penyerahan piala karena ia sudah keburu pulang setelah bertengkar hebat dengan Liam.
 Didi mengambil piala itu dari tangan Liam, “Kau menyebalkan sekali, Liam Payne,” ujar Didi kesal sambil kembali berjalan meninggalkan Liam. Liam terlihat bingung, tidak mengerti apa yang terjadi. Zayn yang gregetan melihat ketidak pekaan sahabatnya segera mendorong Liam untuk berlari mengerjar Didi. Liam berlari kencang dan berhenti untuk menghalangi jalan Didi.
“Didi, aku sudah pernah membuat kesalahan besar satu kali karena tidak mengejarmu ketika kau pergi malam itu dan kali ini aku tidak akan mengulanginya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Aku benar-benar minta maaf Didi, aku sudah bersikap bodoh, egois, dan sama sekali tidak peka. Aku ingin kau memberikanku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya, mengenalmu lebih baik, menghabiskan waktu lebih banyak denganmu. Sama sepertimu, aku juga senang bisa menghabiskan waktu bersamamu,” Liam mengatakan ini dengan mimik muka serius, wajahnya menjadi merah padam, tapi ia sudah tidak mempedulikan itu lagi, ia hanya ingin Didi mengerti maksud kalimatnya.
Didi tetap terdiam, memandangi Liam dengan tidak berkedip. Zayn, Harry, Niall, dan Louis sangat cemas menunggu jawaban apa yang akan diberikan Didi.
Didi mulai tersenyum, kemudian ia tertawa lebar, “Pidato yang bagus Liam,” ledek Didi. Liam menarik napas lega melihat reaksi Didi. Keceriaan sudah kembali menghiasi raut wajah Didi. “Jadi, kau sudah memaafkanku?” tanya Liam. Didi mengangkat alisnya, terlihat ragu-ragu sebentar, kemudian ia mengangguk dengan mantap.
“This time, no more McDonald’s, Didi. Only fancy restaurants, as you wish,” ujar Liam.
“You mean, you’re going to take me on a real date?” tanya Didi ragu-ragu.
“Ada yang salah?” balas Liam takut membuat Didi marah.
“Aku berubah pikiran, aku tidak mau makan di restoran mewah. Makanannya terlalu sedikit dan table manner terlalu membingungkan. Aku tidak suka,” kata Didi polos.
Zayn, Harry, Niall, dan Louis berteriak heboh di belakang, mereka ikut bahagia melihat Liam dan Didi. “Liam, jangan lupa traktir kami juga ya? Kami kan ikut membantumu merencanakan semua ini,” ledek Zayn. Harry, Louis, dan Niall ikut memasang muka memelas berharap ditraktir Liam.
Liam tertawa lebar melihat keisengan keempat sahabatnya, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Didi. Ia menyadari bagaimana perasaannya terhadap gadis itu. Liam memeluk Didi erat dan di benak Liam mulai muncul kilas balik bagaimana kecelakaan yang dialami Liam dan Victoria bisa membawanya bertemu dengan Dianna. Liam tersenyum mengingat semuanya lagi. Apa yang Liam yakini dari awal ternyata benar. Apabila ia tetap bersikap positif dalam menghadapi sesuatu, pasti akan selalu ada berkah tersembunyi dari setiap kesulitan. Untuk Liam saat ini, Dianna adalah hadiah terbaik yang pernah Tuhan berikan untuk dirinya.

Saturday, June 15, 2013

Peserta 1D Fanfic Contest 2013

1) Alvianita Febriani 
2) Anindya Putri Kariza
3) Arintya Putri Fadhila
4) Aulia Zahriani
5) Carissa Putri
6) Desi Dwi Wahyuni
7) Dinta Ayu Permadani
8) Elmenika Quantero
9) Fanni Pradita
10) Faulina Diani Safira
11) Fira Nadhifa Widya
12) Jasminesia Sekarsari Bayu
13) Nisrina Alya Khoirunnisa Toba
14) Poppy Amelia Sevina
15) Rania Manda
16) Raniar Imania Putri
17) Ratu Fairuz Hasna Sofani
18) Riana Agustin
19) Risa Iqlima Restaripani
20) Shafa Ghaisani Salsabila
21) Shafira Deasy Hikmawati
22) Syifanabila Purwantori
23) Stefani Sarilin
24) Zahrotunnisa
25) Anindra Widya Acintya

Selamat bagi yang terdaftar sebagai peserta #1DFanficContest13! Untuk pengumuman pemenang akan kita kabari secepatnya.
Bagi  kalian yang tidak terdaftar jangan kecewa. Kita benar-benar harus memilih yang mendekati dengan syarat dan ketentuan yang kita mau karena ada banyak sekali fanfic yang harus kita baca. Jangan kecewa yah! 

Terima kasih atas seluruh partisipasi kalian selama 4,5 bulan ini! :)

Love
INDWANTS1DLADS 

Wednesday, June 5, 2013

Fall

Written by Angela Vita Dewi 


Aku berjalan menyusuri trotoar jalanan yang di penuhi oleh ratusan kendaraan yang telah berlalu-lalang melintas—namun sama sekali tak menghiraukannya.  Matahari mulai condong ke ufuk barat, warna langit mulai ke merah-merahan, dan angin berhembus agak kencang hingga berhasil mengacak-acak tatanan rambut kemerahanku. Langkahku terhenti tepat di stasiun yang tak jauh dari kampus. Duduk tertegun menikmati angin sore hari dan pantulan cahaya jingga dari pintu masuk adalah hal ternyaman yang paling ku benci. Aku tahu, dengan begitu, wajahnya lagi-lagi akan muncul dalam benakku yang terus menerus me-reka ulang semuanya.
“I love ya.”
Suara itu masih terdengar jelas dalam telingaku.
Ah, apa ku bilang. Aku lagi-lagi teringat pada sosok  itu. Pandangannya masih tersorot jelas dalam mataku. Hampir 3 tahun ku lewati, musim-musim telah berganti, dan keadaannya masih tetap sama. Aku tetap menunggunya. Bodoh memang. Aku telah menghabiskan seluruh waktuku selama itu hanya untuk menunggu hal yang tak pasti. Janji-janji yang bahkan aku tak yakin apa dia mengatakannya dalam keadaan sadar? Tapi, keegoisan menutup semuanya, karna pada akhirnya aku tetap menunggunya, setidaknya hingga sekarang. Saat ini. Ribuan kabar burung telah melintas dalam gendang telingaku. Bahkan semua orang membenciku karna kebodohanku. Tak ada yang bisa mengubah pendirianku, sekalipun sahabat-sahabatku.
“Dia akan bertunangan, bulan depan.”
Lalu tiba-tiba pikiranku melayang, mendengar kalimat yang terucap dari bibir George, sepupunya, minggu lalu. Mengapa tiba-tiba sesak itu kembali menjalari seluruh tubuhku? Aku tak ingin meringkuk tersiksa dalam kesendirian, lagi. Aku tahu, setiap kali aku merasakan kesendirian aku selalu teringat akan perkataannya, namun detik kemudian suara George menghantam manisnya rekaan itu, sekaligus menyayat hati. Tak bisa di pungkiri lagi, George bahkan telah memberikan bukti undangan pertunangan mereka. Tapi mengapa hati ini rasanya masih belum saja bisa melepas?
Sesuatu menyadarkanku dari lamunanku beberapa menit yang lalu. Setidaknya sebelum air mataku menetes untuk kesekian kalinya, lagi. Aku menoleh kearah ujung lorong, sebuah kereta terlihat berjalan kearahku. Tanpa fikir panjang, aku langsung menaiki kereta tersebut tak lama setelah kendaraan yang akan membawaku kesuatu tempat itu berhenti. Aku hanya melihat beberapa orang yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing, seketika aku masuk dan memilih duduk di dekat pintu.
Sekitar sejam kemudian, aku sampai ketempat tujuanku. Sebuah rumah megah terlihat di balik gerbang yang menghalangi halaman indah yang kini ku pijaki, seketika aku turun dari taxi yang ku naiki sebentar. Aku memandang lurus kedepan seraya meneruskan langkahku masuk kedalam rumah bergaya klasik itu. Semerbak bau lavender mengundangku memasuki bangunan besar itu dengan kaos simpel dan jeans panjangku. Seorang pria berambut pirang muncul di ambang pintu tak lama setelah aku menekan bel. Alih-alih mempersilahkan aku masuk, pria itu malah menatapku dengan kedua bola mata biru hangatnya.
“Kau menangis?”
“Aku tidak—” Aku menangkis semua pemikirannya, mencoba menyembunyikan semuanya.
“Aku bisa melihatnya. Jangan berbohong,” Kalimat itu, kalimat yang selalu muncul setiap kali aku berfikir takkan ada seorangpun yang tahu akan tangis jerit yang ku derita. Tapi, pria itu selalu mengacaukannya. Aku tahu, biar bagaimanapun, sekuat apapun aku menutupinya, pasti ada celah untuknya melihat semua, bahkan tanpa aku menangis dihadapannya sekalipun.
“Kau memang selalu tau itu.” Aku tersenyum miris, lalu memeluknya. Air mataku jatuh pada saat yang bersamaan.
Aku selalu bisa menahan air mataku di hadapan siapa saja, kecuali dia. Niall James Horan. Tidak ada seorangpun yang tak tahu pria itu. Dalam kehidupanku, dia adalah sahabatku, satu-satunya orang yang tahu semua hal dalam diriku. Namun, mungkin bagi dunia dia adalah sosok tampan yang bernyanyi di sebuah band ternama di dunia, dan aku tak memperdulikan seberapa terkenalnya dia, saat aku merasakan nyaman dan hangatnya ketika aku bersama dirinya. Dulu, aku hanya seorang fans yang mengidolakannya, namun kenyataannya kini aku berada dalam rengkuhannya sebagai seorang sahabat. Dengar, seorang sahabat.
“Aku menunggu mu, sudah cukup lama kita tak bertemu.”  Dia melepas rengkuhannya, lalu mengacak-acak rambutku seenaknya dan merangkulku, mengiringku masuk menuju ruang tengah dimana semuanya telah berkumpul.
***
“Dia tak pantas untuk mu, lupakan dia, kumohon.”
Suara itu membuyarkan lamunan akan momen manis yang kini menjadi miris dalam fikiranku. Rambut pirang yang sebagian ia cat hitam terhempas oleh angin malam. Aku masih memeluk besi-besi dingin di balkon kamar miliknya sejak setelah makan malam usai. Tunggu dulu, sejak kapan dia disini?
“I’m trying,” Aku berbisik hangat tepat saat ia mendekatiku dan berdiri menatap cakrawala malam yang penuh dengan taburan bintang. Indah. “It just not that easy.”
“Aku tak pernah ingin melihatmu menangis.” Suaranya mengalun sejuk. Ia menatap lurus kedepan, lalu menyembunyikan wajah manisnya itu.
“Sorry.” Singkatku. Aku mencoba bersikap dingin kepada siapa saja yang memaksaku dalam konteks ini. Namun kehangatannya, selalu membuatku meleleh. Aku mencoba menahan air mataku itu untuk tidak jatuh kesekian kalinya. “Ya, tenanglah. Aku takan lagi menangisi pria manapun. Cukup, Joe telah terlalu menghancurkanku. Aku tak ingin ia atau pria manapun lagi menghancurkanku. Cukup. Aku takkan jatuh cinta lagi.”
“You don’t have to say like that.” Ia tersenyum licik, lalu menatap langit.
“Kenapa?Apa maksudmu?” Bukannya berpura-pura bodoh atau bagaimana, tapi aku benar-benar tak tahu maksud dari perkataannya barusan. Aku memutuskan untuk menatap manik biru khasnya dalam, mengorek-orek semua yang tersimpan, disana. Namun dia tak bergeming, hanya memoles seulas senyum tipis terpaksakan.
“Nothing. Look at that! It’s starfall!!” Ia memekik histeris, dan reflek, aku menoleh kearah apa yang jari telunjuknya tunjukan.
Sebuah sinar kerlip jatuh dan membentuk seperti goresan indah diantara yang terindah. Bintang itu hilang dalam hitungan detik, lalu mataku berputar kearah bintang itu pergi. Dalam ruang lain, sebuah bintang kerlip yang paling terang di antara yang paling indah, terlihat mematung dan memancarkan sinarnya. Aku pernah membaca artikel bahwa bintang yang paling terang adalah yang paling cepat mati. Mereka akan meledak dan membentuk suatu lubang hitam bernama Black Hole. Sangat miris.
Detik kemudian, aku baru sadar bahwa keindahan bukan segalanya. Terkadang, keindahan adalah yang paling buruk diantara yang terburuk. Tak ada yang kekal di dunia ini, bahkan keindahan sekalipun.
“Let’s make a wish!!”
“W-what?” Aku mengerutkan keningku, keheranan. Namun menit kemudian aku sadar, bahwa yang tadi aku lihat adalah benar-benar bintang jatuh!
Dia memejamkan mata, dan aku mengikutinya. Hembusan angin dapat benar-benar ku rasakan kini, hanya saja semuanya terlihat abstrak. Ruang-ruang harapan terlihat kosong dan gelap dimataku. Apa yang harus kuharap dan kuucapkan? Hatiku bergemuruh heran, aku barusaja menyadari bahwa There’s nothing I want.
Lalu angan itu kembali terbayang, rekaan coklat muda yang lapuk. Sesuatu seperti menepuk pundakku dan berbisik. Bisikan yang sangat rentan dan lembut. I just wanna be happy.
“What a pretty night. Isn’t it?” Ia tersenyum girang , aku membalasnya. Tawanya memenuhi keheningan di tengah-tengah kami, kelopak matanya menyipit. Wajahnya mulai maju, jemarinya menyantuh daguku, nafasnya sedikit kurang dapat kurasakan. Matanyanya menyorotkan keteduhan. “How can you be so cute like that?”
“Cute?” Aku memicingkan mataku, curiga. Wajahnya berhenti. Tak biasanya ia berkata manis seperti itu, terakhir kali ia mengatakan itu saat… Pertemuan singkat pertama kami.
Saat itu pertengahan Desember hampir 2 tahun lalu. Desember yang sangat menyedihkan. Aku baru pindah ke kota ini dan tinggal sendirian. Merayakan natal yang kukira akan sama menyedihkannya. Salju terlihat menumpuk di pinggiran kota. Es turun dari lembayung awan sirus, jalanan kota licin dan tak terkendali. Aku hendak membeli coklat panas dan meninggalkan apartment yang tak jauh dari pusat kota. Moodku turun drastis sejak aku tahu bahwa aku akan tinggal dalam satu apartment dengan saudara tiriku, Giselle Parker, si menyebalkan itu. Sejak kematian Mom, dan kehadiran nenek sihir serta anaknya itu, hidupku semakin memburuk. Di tambah perpisahan yang sangat tak terduga dengan pria yang paling ku sayangi. Jadi, pantas saja tak ada harapan  dalam ruang ilusiku, saat ini. Semuanya terlihat sangat kacau meski aku mencoba untuk melihat dari sudut manapun. Andai saja ada yang tahu maksud aku meninggalkan Brooklyn dan pindah ke sini adalah untuk melupakan semua kepedihan dan menghindar dari ibu tiri serta anaknya itu, mungkin hanya beberapa waktu untukku melupakan semuanya.
Aku memasuki kedai yang paling kosong diantara yang teramai. Mengantri dan menunggu adalah hal yang paling ku benci, kau tahu. Jadi aku memilih kedai yang paling renggang diantara deret kedai lainnya. Aku memesan secangkir coklat panas dengan caramel kesukaanku, lalu duduk diantara ruang kosong itu. Menatap lurus kearah kaca yang memperlihatkan langsung keramaian kota. Pandanganku terseret kearah sesosok pria misterius di sudut lain. Wajahnya tertutupi oleh topi dan hoddie-nya, namun tubuhnya terasa seperti familier, sangat. Panasaran, aku mendekatinya meski mencoba untuk tak memperdulikannya.
“Sorry?” Aku menyapanya, menatapnya, mencari celah untuk melihat wajahnya. Lima detik kemudian, ia menengadah kearahku. Wajah pucat seputih salju terlihat sangat cerah dengan dominan warna biru hasil pembiasan maniknya. Bibir merah muda dan tatapannya saat itu masih bisa ku ingat kini. Menit kemudian, aku sadar bahwa dia adalah idolaku sejak aku duduk di bangku SMA. “Niall?”
Aku terkejut pada saat yang bersamaan, lalu mencoba tersadar. Mungkin rautku sangat abstrak kala itu, dan pertemuan kami di sambut oleh tawa seriusnya. Ah sudahlah, itu sangat memalukan, kau tahu. Tapi satu hal yang aku tahu dan masih teringat dalam benakku, bahwa aku sangat senang saat itu. Dan dalam beberapa tahun belakangan, aku tak pernah terlihat baik dan sebahagia itu.
Lagi-lagi, aku terbuai oleh angan masa lampau, beruntung, tak sampai lima menit aku tersadar saat lekuk tangannya menyentuh ubun-ubunku, lalu mengacak-acak rambutku seenak jidat. Tapi, aku menikmatinya. Dan aku selalu menikmatinya.
“Ini sudah larut,” Kalimat itu lagi-lagi memecah keheningan. Ia meneruskan, “Kau mau ku antar atau bagaimana?”
“Tidak, aku ingin menginap disini. Sudah terlalu lama aku meninggalkan rumah ini. lagi pula, aku sudah muak dengan tingkah Giselle. Kenapa? Boleh kan?” Aku menatapnya memelas, meminta. Ia lalu tersenyum dan menggiringku masuk kedalam kamarnya. Aku memberhentikan langkah kami, dan membelokan percakapan yang tak di jawab itu. “Jadi, bagaimana dengan Demi?”
“Kau belum lihat beritanya?” Ia menjatuhkan diri kearah sofa marun empuk yang kita letakan di pojok ruangan saat mereka baru pindah kesini, tiga tahun lalu.
“Berita apa?”
“Dia sudah berpacaran.” Aku terhanyut oleh perkataannya barusan. Aku memang sudah lama tak mampir kesini karna tugas-tugas yang membuat ku muak. Tapi, sudah berapa lama aku tak membuka internet, hingga berita yang gempar itu tak sama sekali ku hirup?
“Sejak kapan?”
“4 bulan yang lalu.” Empat bulan yang lalu adalah tepat saat aku mulai mengerjakan tugasku. Sial! Mengapa semuanya terasa hambar seperti ini, ha?!
“Lalu?”
“Mungkin pada kenyataannya aku memang tak pantas untuknya. Lagi pula, aku sudah melupakannya. Aku hanya belajar menerima kenyataan bahwa takkan ada perempuan yang menyukaiku seperti aku menyukainya.” Wajahnya seketika berubah muram, dan mendung.
“Ada. Aku!” Aku tersenyum, bermaksud untuk menghibur. Aku tahu, ini adalah permasalahan yang selalu ada di sekelilingnya. Semua fansnya tak pernah setuju akan kehadiran Niall di band, dan banyak paparan abstrak yang menutupi dan membuat Niall semakin murung saat mengingatnya. “Jadi bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Aku tak pernah sebaik ini sebelumnya. Setidaknya, massa-massa dimana dia dank au pergi kini sudah terlewatkan, bukan? Buktinya, kau ada disini sekarang. Sudahlah, jangan bicarakan dia, aku sudah punya penggantinya, kok.”
“Siapa?” Tanyaku, penasaran. Aku menatapnya dalam.
Sebuah ketukan di balik pintu pojok ruangan memecahkan keseriusan kami, sial! Aku dengan reflek bangun dari sofa yang diikuti oleh langkah Niall. Sebuah suara terdengar samar dari luar sana. Suara yang berat dan khas, dan aku tahu betul itu adalah Harry Styles. Si kriting itu. “Simon memanggilmu. Kami menunggu kalian di bawah!!”
“Okay!” Niall agak berteriak, membuat telingaku sedikit pengang.
“Oh damn, be quite!” kataku, sewot. Ia malah semakin memperbesar frekuensi suaranya dan berteriak di telingaku. Hampir membuat gendang telingaku pecah. Dasar usil.
“Shut up! Ayo turun sebelum mereka semua marah.” Aku menyelinap dan menarik tangannya di tengah-tengah canda tawa yang terpecah. Akhirnya kami turun dengan masih tertawa pada hal yang sama sekali tak jelas. Sampai di ujung tangga dan melihat semua kru dan anggota band sudah berkumpul disana. Dia lalu meneruskan langkahnya menyusuri anak tangga hitam yang berbaris menurun. Kami di sambut oleh semua orang di ruangan dengan tatapan tajam, seperti ingin membunuh. Mencoba untuk tak memperdulikan semuanya, aku dan Niallpun langsung duduk di ujung sofa.
***
Secercah sinar jingga masuk menelusuri gorden putih, berhasil membangunkanku dari tidurku. Aku mengangkat tubuhku bangun menjauh dari kasur tempat dimana aku selalu terbaring lelah disini. Lututku bergerak menuju gorden yang diselinapi oleh cercah cahaya jingga musim gugur. Jemariku berhasil menggeser kaca jendela, mencoba mencari oksigen di pagi hari. Manikku menatap lurus kedepan, langit dengan awan cumulus terhias oleh gedung pencakar langit, angin yang berhembus kencang berhasil mematahkan daun, membawanya terbang terhempas dan tergeletak di sepanjang jalan.
Musim gugur.
Tak ada yang lebih indah dari seluruh musim selain musim gugur. Musim dimana angin berhembus mengantarkan kenyamanan, menuang teh hangat dengan syal tipis dan legging panjang yang berpadu padan mantel atau sweater tipis. Boot coklat mengantarkan kemanisan di setiap sudut kota pada musim ini. Aku memandang lurus. Kemudian, fikiranku teringat akan Brooklyn Bridge. Malam itu, awal pertengahan musim panas. Langit terlukis oleh goresan indah kembang api dan taburan bintang. Lampu benderang menghias di sepanjang jalanan di jembatan itu. Aku memandangnya dan berdecak kagum kala itu. Air memantulkan bayangan lampu dalam gelap malam, membuat semuanya semakin indah. Andai saja aku bisa, aku takan membiarkan semua itu terlewati dan berakhir seperti ini. Mendengar riuh suara yang meledak-ledak dengan genggamannya yang membuat suasana semakin hangat. Sentuhan lekuk bibir hangatnya masih dapat ku rasakan bahkan hingga saat ini.
Aku baru membalik tubuhku ketika sebuah suara ponsel bergetar merdu. Mengalunkan lirik-lirik nada indah. Aku mengambil ponsel yang tergeletak diatas ranjang itu, dan melihat siapa gerangan yang menelfonku sepagi ini. Nialler. Uh?
“Hello?”
“Hi. Morning, Rach.” Suara kantuk itu terdengar jelas. Oh niall, aku tahu kau takkan pernah bisa bangun sepagi ini kalau bukan untuk hal yang penting. Ya, aku tahu itu.
“Morning. Ada apa menelfonku sepagi ini?”
“Kau sibuk, hari ini?” suaranya terdengar dengan aksen berciri khas. Seperti orang setengah mabuk yang masih mengantuk.
“Not really.”
“Baguslah. Bisa hang out?”
“Kemana?”
“Entahlah. Well, see ya at 8. Aku akan menjemputmu, bye!” Belum ku jawab saja, sambungan telfon sudah terputus. Mengapa sangat terburu-buru? Sangat tak seperti biasanya.
Aku melangkah memasuki kamar mandi dengan piyama simpel yang tertempel membalut lembut tubuhku. Dengan malas, aku mulai membersihkan tubuhku. Jemariku mengambil sikat gigi yang tergeletak dalam gelas, mengisi gelas dengan air dan mencoba mengolesi odol rasa mint. Tanganku mulai bergerak, namun fikiranku seakan melayang.
Memang, beberapa bulan belakangan ini aku dan Niall sering hang out. Seperti menonton film, menemaninya rekaman bersama The Boys, mencari pemandangan yang bagus untuk project album fotografiku, atau bahkan menemaninya ke dokter gigi, dan itu memang kegiatan kami seperti biasa. Tapi tidak untuk sepagi ini. uh, atau mungkin aku hanya terlalu menganggap semuanya lebih? Tidak, tidak. Aku tak boleh seperti ini.
“Uh, dasar pria misterius.” Aku mendengus kesal. Kebiasaannya yang selalu membuatku penasaran dan kegilaan. Aku menatap lurus kearah kaca dihadapanku. Fikiranku kembali melayang kesetiap detail hari-hari yang selalu membuatku tersenyum dengan irisan tawanya.
Aku teringat kemarin malam. Ia mengajakku untuk ke kedai dimana kami berdua bertemu. Meminum coklat panas dengan angin musim gugur dimalam hari adalah hal terindah. Meski seperti biasa, dia harus menyamar dengan hoddie dan topi untuk mencegah agar para fansnya tak mengenalinya, atau bahkan para wartawan. Ya, karna aku tak ingin mendengar kabar burung perihal status kami. Dan pada nyaris tengah malam, kami menyusuri setiap sudut kota, berjalan dengan gemerisik pohon yang terhembus oleh angin dengan genggam hangatnya. Dan pada akhirnya ia mengantarku pulang sampai tepat di depan pintu apartment ku. Tunggu dulu, kenapa aku jadi memikirkannya? Tumben sekali aku justru tak terpaku oleh momen lapuk itu? Apa dia satu-satunya obat untuk aku melupakan momen menyakitkan itu? Aku hanya merasa lebih baik saat dengannya dibanding untuk bersanding dengan Jonathan dalam pergaulan bebas. Memeluknya erat ketika aku tengah duduk tepat di belakang jok motornya adalah hal paling gila yang pernah ku lakukan. Dengan kecepatan lebih dari 60 mil perjam. Meski begitu, kini aku menyadar sisi buruk dari semuanya. Oh sialan keparat itu ternyata telah menjerumuskanku tanpa ku sadari. Setiap malam, aku selalu mengikutinya. Ke tempat dimana music berdengang dalam gendang telingaku, perempuan jalang dan pria brengsek. Kenapa aku baru menyadarinya?
***
Aku memoles lipgloss rasa mintku tepat kearah bibir merah jambuku ketika sebuah bunyi bel mengejutkanku. Dengan masih mengenakan handuk, aku mencoba melihat siapa gerangan orang yang di balik pintu. Oh, tentu saja. Sudah kuduga, pasti Niall. Siapa lagi?
“Hey.” Ia tersenyum manis dengan kaos putih polos dan jaket biru muda pemberianku valentine tahun lalu. Jeans biru tua yang menumpuk dengan sepatu kets putihnya sangat serasi dengan manik biru dan rambut pirang yang ia acungkan itu. Tidak biasanya dia berpenampilan sekeren dan sangat sesuai dengan seleraku seperti ini. aku menatapnya agak lama, terpesona.
“Okey. Masuk, aku belum selesai.” Aku tersenyum kearah pria polos itu dan menutup pintu saat ia mulai memijakan kakinya kearah karpet putih itu.
Aku melangkah menuju kearah kamarku di sudut ruangan tepat disisi dapur dengan bar kecil di sisi lain dapur tersebut. Sebuah suara pecah terdengar saat aku baru sampai di bibir pintu. “Bianca, kau mau kemana dengan pria bodoh ini?” aku memutar tubuhku berbarengan dengan pria yang tengah duduk di sofa itu kearah sumber suara.
“Ku kira kau lebih bodoh. Well, bukan urusanmu.” Aku menyeletuk sewot kearah perempuan yang masih terbalutkan piyama itu. Penampilannya sangat buruk. Aku lalu meneruskan niatku untuk masuk kekamar dan mengganti pakaianku.
Aku meraih top dan hotpants coklat mudaku, dan mengenakannya tepat kearah tubuh yang sudah bisa di pastikan tak pernah tersentuh oleh siapapun. Meski Joe senakal itu, tapi aku selalu membatasinya dalam perihal ini. Aku mengambil sweater rajut kremku diantara gantungan-gantungan baju dalam lemariku. Boots coklat tuaku memperlengkap penampilanku saat ini.
“Ayo!” kataku semangat. Ia langsung beranjak dari duduknya. Aku melirik kearah gadis yang tengah memoles selai kedalam rotinya di dekat bar saat aku dan Niall mulai melangkah keluar.
“Kau masih membencinya bahkan hingga sekarang?” Niall bertanya tepat saat pintu lift berbunyi dan kamipun masuk. Aku menjeda sejenak. Jemarinya menekan tombol 1 lantai dasar. Aku tahu apa yang ia maksud tanpa ia mengatakannya, namun dalam konteks ini aku bahkan malas untuk membahasnya.
“Dia selalu bertingkah manis didepan Daddy, meski pada kenyataannya kelakuannya masih seperti wanita jalang. Pulang pada pukul 2 pagi dengan keadaan mabuk. Oh, bagaimana bisa aku memiliki saudara tiri seperti dia?”
“Tapi, bagaimanapun, diakan saudaramu. Menurutku, harusnya kau yang menyadarkannya.” Ia bertingkah seolah seperti orang bijak. Aku benci ini. meski pada logikanya, perkataannya memang benar, tapi sekali benci aku akan tetap membencinya.
“Sudah lah jangan bahas soal ini lagi. Lagi pula dia bukan saudaraku, kok.”
“Kau ini. dasar keras kepala.” Ia menghabiskan percakapan kami, karna aku hanya memilih untuk diam. Lalu, beberapa saat kemudian, ia berkata lagi, “Oh ya aku akan membawamu ke suatu tempat.”
“Kemana?”
“Rahasia.”
***
Ruangan ini terlihat sangat kosong. Gelap.
Ia menuntunku masuk. Jemarinya menggenggamku erat seakan enggan untuk melepaskan. Aku megikuti langkahnya yang sedikit berlari. Rambutku seakan terhembus oleh angin yang masuk dari celah bangunan. Nafasku mulai terengah saat Niall mencoba mengangkat tubuhku kearah panggung utama yang tingginya nyaris sepundakku. Tak lama setelah aku naik, pria pirang itupun melompat naik keatas panggung. Ia berlari kearah belakang panggung setelah ia menyuruhku duduk di tepi panggung. Akupun menuruti perintahnya dan langsung menggantungkan kakiku. Aku menatap ke setiap sudut ruangan. Kosong. Hanya ada beberapa kursi yang berbaris rapi dan beberapa alat music di belakangku.
“Well let me tell you a story, about a girl and a boy. He fell in love with his best friend…” Sebuah suara bernada rendah mengalun lembut senandung dengan petikan gitar. Aku menoleh kearah dimana suara itu berasal. Pria yang tadi mengangkatku naik itu kini telah di selendangi oleh gitar yang sangat tidak familiar lagi bagiku. Ia menatapku serius, dan pada saat yang bersamaan aku merasa beku.
“When she's around, he feels nothing but joy,” Ia tersenyum saat mata kami bertemu. Lalu meneruskan langkahnya maju mendekat. Bibirnya kembali meneruskan, “But she was already broken, and it made her blind But she could never believe that love would ever treat her right…”
“But did you know that I love you? or were you not aware? You're the smile on my face And I ain't going nowhere” Ia bernyanyi seakan mengucapkan kalimat itu dengan penuh keseriusan. Dan saat aku menyadarinya, kamudian jantungku memompa kuat, nafasku tersendak saat ia duduk tepat di sisi kananku. Mataku masih tak berpaling sama sekali. Bibirku masih diam tanpa kata. “I'm here to make you happy, i'm here to see you smile I've been wanting to tell you this for a long while”
“What's gonna make you fall in love? I know you got your wall wrapped all the way around your heart Don't have to be scared at all, oh, my love But you can't fly unless you let your,” Ia memberhentikan permainan gitarnya dan memalingkan pandangannya dari arah gitar. Sorot matanya tertuju kearahku yang sedari tadi menatap kearahnya. Ia tertawa, lalu memainkan suaranya, “Yea, yknow you cant fly unless yourself fall, baby.”
Ia lagi lagi berhenti. Tangannya beranjak menaruh gitar yang tadi ia mainkan dengan tangan kirinya itu tepat kearah sisi kanannya. Dan tanpa terduga, ia memainkan a capella-nya di depanku. “Well, I can tell you're afraid of what this might do Cause we got such an amazing friendship and that you don't wanna lose…”
“Well, I don't wanna lose it either I don't think I can stay sitting around while you're hurting babe, so take my hand…” Ia berhenti sejenak, lalu menatapku. Aku merasakan sentuhan lembut jemarinya tepat kearah jemariku, saat ia mengalunkan kalimat terakhir. Ia menggenggam tanganku yang telah tercucuri keringat dingin. Membuat semuanya semakin parah. Tanganku dengan tak terkendali, bergetar hebat. Saat ini, aku hanya berdoa agar dia tak bisa merasakan kegugupan itu.
“Well, did you know you're an angel who forgot how to fly? Did you know that it breaks my heart every time to see you cry Cause I know that a piece of you's gone Every time he done wrong I'm the shoulder you're crying on And I hope by the time that I'm done with this song that I figure out” Ia memanjangkan sedikit nadanya, lalu melanjutkan alunan semerbak lagu itu pada bagian reff. “What's gonna make you fall in love? I know you got your wall wrapped all the way around your heart Don't have to be scared at all, oh, my love But you can't fly unless you let yourself, You can't fly unless you let yourself fall”
“Don’t be afraid, ‘cause I’ll catch you if you fall.”
Ia menyelesaikan lagu itu tepat pada kalimat yang sepertinya ia ucapkan dengan yakin. Ia lalu menatap manik hijauku, dengan tetap menggenggam jemariku. Genggamannya mengencang saat ia menundukan kepalanya. Namun, mengapa tiba-tiba airmata ini terasa ingin mengalir saja?
“Rachel Bianca Parker,” ia menyebutkan nama panjangku sambil mendongakkan kepalanya dan langsung memutar tubuhnya kearahku. Bibirku masih kelu melihat semua ini. apa maksudnya? “I know it’s hard. But, please don’t ask me why, cause I don’t even know.”
“Aku bahkan tak tahu bagaimana harus memperjelas semuanya. Tapi aku selalu merasa sakit saat melihatmu terus menerus menangis.” Ia melepas genggamannya lalu menyatukan jemarinya. Aku tahu, dia benar-benar gugup, karna itu adalah kebiasaannya saat ia merasakan kegugupan kapanpun. “Aku tak pernah ingin menghancurkan persahabatan kita, tapi aku juga tak ingin melihatmu hancur saat semua yang bisa ku lakukan hanya merengkuhmu sebagai seorang sahabat. Aku tau ini salah, tapi aku tak ingin membohongi perasaanku lagi. But if loving you is wrong, I don’t even wanna be right.”
Ia terdiam. Kesunyian memenuhi telingaku kini. Aku masih mencerna setiap kalimat yang ia ucapkan kepadaku. Lalu ia berusaha berkata untuk sekian kalinya, “So, would you be the food of mine?”
Air mataku tumpah pada saat yang bersamaan.
Bibirku tercekat nafasku sesak dan air mataku terus mengalir jatuh membasahi pipiku. Aku bahkan tak tahu alasan mengapa aku menangis. Ini adalah kali pertamanya aku menangis karenanya. Aku tak tahu harus berkata apalagi sekarang. Bohong jika aku mengatakan bahwa aku tak menyayanginya, meski selama ini yang ku tahu semuanya hanyalah sewajarnya sebagai sahabat. Tapi, akhir-akhir ini aku memang merasakan rasa itu sudah melebihi batas, meski aku terus menerus mengelakkan dan membantah semua fikiranku.
Aku melihatnya tertunduk seperti menyesal. Ia meremas rambut pirangnya. Otot tangannya terlihat jelas seakan ia mengeluarka emosi yang berlebih. Ia menghela nafas sebelum akhirnya beranjak turun dari bibir panggung. Ia memandang luar berderet kursi merah marun di hadapan kami. Air mataku masih jatuh selama seperkian detik sebelum ia tak lagi menatapku.
“Jangan menangis.” Aksen inggrisnya keluar dengan nada rendah, hingga nyaris aku tak bisa mendengarnya. Aku menghapus dan mencoba menahan air mataku. Ia tak berkutik, masih mematung dengan suara yang sedikit bergetar seperti… Menangis?
Aku bingung. Hingga saat ini, aku masih tak bisa mencerna setiap kalimat yang ia katakan beberapa menit yang lalu. Maksudku, bagaimana bisa? Tapi, aku tak boleh begini. Aku harus memutuskan. Aku tak boleh menggantungkan harapannya dalam diriku. Lagi pula, tak ada alasan untuk aku menolak semuanya. Joe hanyalah abu-abu sedangkan Niall jauh lebih terang darinya. Jika di definisikan, Niall pelangi dan Joe adalah badainya. Seperti bintang, Niall terlihat paling terang meski ia berada jauh dalam gapaian. Dan kau tahu? Aku sangat menyukai bintang. Mungkin kali ini bintang yang paling bercahaya dan sering ku kagumi itu telah saatnya jadi miliku sepenuhnya. Mungkin, mereka telah jatuh dalam atmosfir dan gravitasiku.
Aku melompat turun. Kakiku melangkah mendekatinya. Aku terdiam dalam jarak yang tak lebih dari 10 inci dengannya. Aku menatap punggung pria yang bahkan aku tak lebih tinggi dari batas bawah telinganya. Dengan cepat, aku merengkuhnya dari arah punggung. Melingkari pinggangnya dengan erat. Air mataku jatuh, lagi. Namun kali ini aku berusaha untuk menahan. Aku menarik nafas.
“Apakah kau menyesal telah mengatakan semua? Ku kira, kau tak salah. Sama sekali. Jika itu memang keinginanmu, akan ku pegang janjimu. Don’t let me fall.” Nada ku bergetar. Manikku menatapnya tajam dengan sedikit berkaca, namun kemudian aku menunduk menyembunyikan tangis entah bahagia atau apa. Tapi, aku tak pernah merasa sesenang ini, sebelumnya.
“Jangan paksakan dirimu. Atau kau hanya akan membuat semuanya semakin hancur.” Ia membalas tajam tatapanku. Seperti mencari sesuatu dalam manikku.
“Sejak kapan kau tak mempercayaiku? Aku menyukaimu. Bahkan sejak kita belum bertemu. Soal Joe, aku tak memperdulikannya. Serius, kau fikir aku hanya membual?” Aku menatapnya yakin. Ia membalasnya lebih serius. Wajahnya mulai mendekat, nafasnya terasa melalui pori-pori wajahku, detak jantungnya berdetak kencang saat aku menyentuh dada bidangnya yang semakin mendekat. Mata kami saling bertemu, sebelum akhirnya bibir kami juga ikut menyatu. Aku dapat merasakan lembut lekuk bibirnya. Ia merengkuhku erat. Pelukan yang selalu ku dapatkan darinya sebagai pelindung, kini terasa lebih aneh dan berbeda. Maksudku, pelukkannya terasa lebih hangat dan teduh dari biasanya.
Apa ini yang benar-benar mereka sebut cinta?

***