Saturday, July 27, 2013

The Paynes and The Pauper

Finalis #1DFanficContest13


LILS

“Selamat pagi! Selamat datang di Starbucks. Namaku Ashley. Kau ingin pesan apa?” sapa seorang gadis barista dengan ramah. “Aku ingin secangkir latte vanilla tanpa gula,” balas seorang pria muda berambut cokelat. “Semuanya jadi 4.5 poundsterling. Siapa namamu?” lanjut gadis barista itu. “Daniel,” jawabnya lagi. “OK Daniel,” gumam Ashley sambil menulis D-A-N-I-E-L pada cup latte pesanannya, “Counter pengambilan ada di sebelah sana dan semoga harimu menyenangkan, Daniel,” ujar Ashley mengakhiri pembicaraannya. “Kau juga, Ashley,” Daniel tersenyum lebar dan menatap Ashley dengan mata birunya yang menawan. Ashley dibuat tertegun sejenak dengan pesona Daniel dan setelan jasnya. “Aku ingin pesan secangkir besar kopi hitam,” seru pelanggan di antrian selanjutnya kepada Ashley. “Oh, maaf. Pesanan Anda akan siap sebentar lagi,” kata Ashley sambil berusaha kembali fokus pada pekerjaannya.
Melayani pesanan pelanggan di Starbucks merupakan bagian dari rutinitas pagi Ashley Keegan, mahasiswi tahun pertama di University of London, pada liburannya kali ini.  Karena saat ini kampus sedang libur musim dingin, Ashley memutuskan untuk menghabiskan waktu di Wolverhampton dengan menginap di apartemen sepupunya, Emily Keegan. Sambil mengisi waktu liburan, Ashley dan Emily bekerja part time sebagai barista di Starbucks, coffee shop tersibuk di kota Wolverhampton.
“Aku bisa melihat dengan jelas kalau kau suka dengan pria yang memesan latte vanilla itu, Ash. Kau bahkan tidak bisa berhenti memandanginya sampai ia berjalan keluar toko kita,” ledek Emily pada Ashley ketika jam makan siang. “Daniel? Kau pasti bercanda, Ems. Aku tahu dia sangat charming dengan setelan jasnya yang berwarna abu-abu itu, tapi aku bukan tipe orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama,” balas Ashley cuek sambil mengaduk-aduk salad, menu makan siangnya hari itu. Emily malah tertawa lebar mendengar jawaban sepupunya itu. Ashley terlihat sedikit gusar akibat ulah sepupunya yang iseng. “Santai,Ash. Aku memang Cuma bercanda kok. Oh iya, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu,” kata Emily sambil mengoper iPhone-nya kepada Ashley. Ashley melihat iPhone Emily, ada sebuah halaman facebook. Ia mulai meneliti akun facebook siapakah itu dan Ashley langsung batuk-batuk tersedak ketika melihat nama dan foto pemilik akun facebook tersebut. “Daniel Payne? Daniel vanilla latte? Dari mana kau bisa tahu facebok-nya, Ems?  Dasar penguntit,” Ashley tertawa canggung, menyembunyikan keadaan kalaua ia sedikit salah tingkah, sambil mengembalikan iPhone Emily. “Pelankan suaramu, Ashley. Jangan sampai orang lain tahu siapa Daniel itu sebenarnya,” kata Emily. “Apa maksudmu, Ems?” tanya Ashley penasaran.
Emily kemudian mengibaskan rambut pirangnya, menaikkan kacamatanya dan mulai bergaya seperti seorang detektif, “Ashley Keegan, kau tahu nama belakang Daniel?” tanya Emily. “Payne?” jawabnya. “Dan kau tahu orang lain yang memiliki nama belakang Payne selain Daniel?” lanjut Emily. “Liam One Direction?” ujar Ashley. “Bingo! Liam dan Daniel adalah saudara sepupu. LIAM dan DANIEL PAYNE,” seru Emily penuh semangat sambil mengguncang-guncang badan Ashley. Ashley tertawa melihat kehebohan sepupunya. Emily adalah fans berat One Direction. Tidak hanya Ashley, sepertinya semua orang di Wolverhampton juga sangat mengagumi Liam. “Bayangkan, Ash. Kau menikah dengan Daniel dan aku dengan Liam. Kita akan hidup bahagia selamanya,” Emily sangat antusias menjelaskan khayalannya. Ashley menaikkan alisnya menatap sepupunya dengan bingung, “Ems, as much as I love to hear about your possibly-never-going-to-happen plan, I hate to say that our lunch break has over,” Ashley meledek balik Emily dengan memasang mimik muka sedih, kemudian ia tertawa lebar. “Oh God, I’m such a terrible actor,” ujarnya. “Never say never, Ash” balas Emily penuh arti.
 Sore itu tampak berjalan seperti biasa bagi Ashley dan Emily. Setelah menyelesaikan jam kerja mereka di Starbucks, Ashley dan Emily kebagian tugas untuk merapikan dan menutup toko. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika mereka akhirnya mematikan lampu toko dan menguncinya. Cuaca di Wolverhampton yang semakin dingin pada malam hari membuat Ashley melepas ikatan ponytail-nya, rambut brunette Ashley yang lurus panjang menutupi tengkuknya, membuatnya sedikit lebih hangat. “Ash, sepertinya  iPhone ku tertinggal di toko. Bisakah kau menunggu di sini sebentar? Aku akan kembali ke toko mengambilnya,” kata Emily setelah mereka sudah sampai di stasiun subway. “No problem, Ems,” jawab Ashley santai.
Ashley menunggu Emily sambil mengamati kesibukan yang terjadi di stasiun subway Grove Street, salah satu stasiun subway tersibuk di Wolverhampton, sesekali ia meniup-niup tangannya karena kedinginan. Meskipun stasiun ini bisa dibilang yang tersibuk di Wolverhampton, bagi Ashley ini masih tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kehebohan di stasiun-stasiun subway di London. Ashley melihat di depannya ada seorang pria yang berdiri sangat dekat dengan platform. Pria itu sedang sibuk berbicara di telepon, jadi wajar kalau ia tidak memperhatikan kalau ia sudah berdiri terlalu dekat ke pinggir dekat rel kereta. Pria itu sepertinya sedang bertengkar dengan seseorang di telepon, ia berbicara amat serius, sampai-sampai ia terpeleset terjatuh ke rel kereta. Kepanikan mulai terjadi di stasiun subway, orang-orang segera mengerumuni tempat kejadian dan berusaha untuk menolong pria malang tersebut. Ashley berusaha keras untuk menembus kerumunan dan ia sangat terkejut setelah mengetahui bahwa pria yang jatuh dari platform adalah Daniel Payne. “Oh God, he’s Daniel! We need to call an ambulance, now!” teriak Ashley yang panik karena melihat kondisi Daniel yang pingsan di platform.
“Ash, ada apa? Kenapa ada petugas medis di sini? Was there an accident? Are you OK, Ash? You look super shocked,” tanya Emily kebingungan setelah kembali ke stasiun. Ashley menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Ems, kita harus ke rumah sakit sekarang. Daniel Payne baru saja terjatuh dari platform subway. Kepalanya terbentur rel kereta cukup keras. Aku harus memastikan kalau ia baik-baik saja,” Ashley menjelaskan.
       ******
Ashley dan Emily menunggu dengan cemas di depan ruang gawat darurat Rumah Sakit St. Claire. Sesekali mereka berdua mengintip dari balik kaca untuk mengetahui tindakan apa yang sedang dokter dan perawat lakukan terhadap Daniel. Emily melihat ekspresi wajah Ashley yang sangat khawatir, “Geez Ashley, aku rasa kau benar-benar suka pada Daniel,” celetuknya.
Ashley segera menghampiri seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat. “Bagaimana keadaan Daniel? Bolehkah aku masuk menemuinya?” tanya Ashley sopan. “Maaf nona, tapi yang boleh mengunjungi pasien di ruang gawat darurat hanya pihak keluarga saja,” jawab perawat tersebut dingin. Ashley terlihat kecewa karena tidak bisa masuk menjenguk Daniel. “Sepupuku ini adalah tunangan pasien, maksudku calon tunangannya. Mereka seharusnya bertunangan akhir pekan ini, tapi sepertinya kecelakaan hari ini akan menunda hari bahagia mereka,” ujar Emily tiba-tiba. Mendengar perkataan Emily, perawat tersebut memasang ekspresi tidak enak hati pada Ashley. “Baiklah nona, kau diizinkan masuk menemui pasien,” perawat tersebut membukakan pintu untuk Ashley.
“Selamat malam, aku Dokter Smith, dan kau?” tanya dokter yang merawat Daniel sambil menjabat tangan Ashley. “Namaku Ashley Keegan, aku tunangan Daniel, maksudku calon tunangannya. Kami seharusnya bertunangan akhir pekan ini,” kata Ashley memasang muka sedih menerawang. Ia berharap dokter Smith bisa percaya kalau dirinya terlihat seperti pacar Daniel, terlepas dari aktingnya yang buruk. “Aku sangat menyesal mengatakan ini,tapi sepertinya kau harus menunda pertunanganmu karena kecelakaan ini,” dokter Smith menjelaskan. “Apakah Daniel akan baik-baik saja?” tanya Ashley. “Daniel akan baik-baik saja, tapi mungkin ia akan tertidur selama beberapa hari ke depan,” lanjut dokter Smith. “Maksud dokter, Daniel mengalami koma?” tanya Ashley khawatir. “Bisa dibilang begitu, tapi ia pasti akan tersadar dalam beberapa hari dan setelah itu ia akan baik-baik saja seperti sedia kala,” dokter Smith menepuk bahu Ashley, berusaha menenangkan kepanikan gadis itu.
Dokter Smith mengantar Ashley keluar ruang gawat darurat. “Melihat keadaan Daniel yang cukup stabil, besok pagi kami akan memindahkannya ke ruang perawatan di lantai 4,” kata dokter Smith seraya berjalan meninggalkan Ashley dan Emily di bangsal rumah sakit. “Bagaimana keadaan Daniel?” tanya Emily penasaran. “Daniel baik-baik saja, tapi dokter bilang mungkin ia akan mengalami koma selama beberapa hari ke depan. Besok pagi ia akan dipindahkan ke ruang perawatan,” Ashley menjelaskan.
Ashley kembali ke Rumah sakit St. Claire ketika jam istirahat makan siang hari berikutnya. Ia mengintip dari kaca pintu ada beberapa orang sedang berkumpul di dalam ruang perawatan Daniel. Ashley dengan mudah menebak kalau orang-orang itu adalah itu keluarga Daniel, mereka semua berambut pirang sepertinya. Ashley sempat mengurungkan niatnya menjenguk Daniel, namun ia merasa bertanggung jawab untuk mengecek keadaan pria itu. Ashley menarik napas, mengumpulkan keberaniannya dan kemudian mengetuk pintu ruang perawatan Daniel dengan perlahan.
Seorang gadis berambut pirang membukakan pintu, “Apakah kau Ashley?” tanyanya. “Ya, aku Ashley Keegan,” jawab Ashley canggung. “Namaku Nicola. Aku sepupu Daniel. Mari masuk Ashley, kami semua sudah menunggu untuk bertemu denganmu dari tadi” lanjutnya penuh semangat. “Ashley!” seru seorang pria paruh baya sambil memeluk Ashley erat. “Senang bertemu denganmu, Nak. Aku Geoff Payne, paman Daniel dan ini istriku, Karen. Ayah dan ibu Daniel meninggal ketika Daniel masih kecil dan sejak saat itu Daniel tinggal bersama kami,” pria itu memperkenalkan diri. “Ashley, ini nenekku dan nenek Daniel juga. Nenek Beatrice,” Nicola memperkenalkan seorang wanita yang kira-kira berusia 70 tahun. Ashley menjabat tangan Nenek Beatrice dengan sopan. “Oh, aku senang sekali bisa bertemu dengan calon istri Daniel. Kau sangat cantik Ashley. Kau mengingatkanku pada aku ketika masih seumur dirimu,” ujar Nenek Beatrice hangat. Ashley tersipu-sipu mendengar pujian tersebut, “Ah, nenek bisa saja. Aku masih tetap kalah cantik kok dengan nenek yang sekarang,” balas Ashley tulus.
“Perawat memberi tahu kami tentang seorang gadis bernama Ashley yang adalah calon tunangan Daniel. Terus terang kami kaget sekali, Ashley. Daniel tidak pernah memberi tahu kami kalau ia punya pacar dan akan segera bertunangan akhir pekan ini,” ayah Daniel membuka pembicaraan serius. Ashley merasa ini sudah saatnya ia memberi tahu keluarga Daniel kalau ia bukan tunangan Daniel dan kemarin ia hanya berbohong supaya bisa berbicara dengan dokter tentang keadaan pria itu setelah kecelakaan.
 “Mr. Payne, sebenarnya aku…” Ashley baru saja mengucapkan beberapa patah kata itu dan Geoff memotongnya, “Kau bisa memanggilku Geoff, kita kan sebentar lagi akan menjadi keluarga,” kata Geoff Payne ramah.  “Geoff, menurutku kita harus memberikan privasi untuk Ashley dan Daniel. Ashley kan ke sini untuk menjenguk Daniel. Mungkin dengan menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadis yang ia cintai, Daniel bisa  cepat sembuh,” ujar Karen Payne tiba-tiba.  “Tidak apa-apa Mrs. Payne, aku memang ingin mengatakan sesuatu kepada kalian,” jawab Ashley. “Kau bisa mengatakannya besok,” celetuk Nicola. “Besok? Apa maksudmu?” tanya Ashley kebingungan.  “Kau diundang ke acara Natal tahunan keluarga Payne. Kita akan makan malam bersama dan saling bertukar kado. Di sana juga akan ada anggota keluarga Payne yang lain. Aku yakin kau akan menyukai acara kami. Kau mau datang kan Ashley?” pinta Nicola. Ashley semakin dibuat bingung dengan permintaan Nicola. Sebenarnya Ashley ingin cepat-cepat mengakhiri kebohongannya sebelum ia sudah masuk terlalu jauh ke dalam keluarga Payne. Namun, sambutan keluarga Payne begitu baik kepadanya. Lagipula, sejak ayah dan ibu Ashley bertugas menjadi relawan di Afrika dua tahun belakangan ini, Ashley hampir tidak pernah merayakan Natal lagi bersama keluarganya. “Satu malam lagi dan aku akan mengakhiri ini semua,” ujar Ashley dalam hatinya.
“Baiklah, Nicola. Aku akan datang besok. Terima kasih sudah mengundangku,” jawab Ashley gembira.
Nenek Beatrice, Geoff, Karen dan Nicola akhirnya keluar dari ruang perawatan Daniel dan sekarang tinggal Daniel dan Ashley di dalam ruangan itu. Ashley memandangi wajah tampan Daniel yang sedang tertidur tenang. Ia tidak tampak seperti orang yang koma. Ashley mulai memutar kembali kejadian kemarin bagaimana ia pertama kali bertemu Daniel di Starbucks, di subway, dan sekarang di ruang perawatan rumah sakit St. Claire. Ashley juga teringat lagi bagaimana sambutan yang diberikan oleh nenek, ayah, dan sepupu Daniel kepadanya. Semua itu membuat hatinya terasa hangat. Ashley membayangkan betapa ia sangat beruntung kalau seandainya ia benar adalah calon tunangan Daniel.
“Hai Daniel, ini aku Ashley,” Ashley mengenggam tangan Daniel, mencoba berbicara dengannya. Ia tahu Daniel tidak bisa mendengarnya sekarang, tapi setidaknya bisa mengeluarkan apa yang mengganjal di dalam hatinya akan membuat Ashley merasa lebih lega. “Kau mungkin lupa kalau kau pernah bertemu denganku di Starbucks. Jadi, aku memperkenalkan diriku lagi. Ketika kau bangun, pasti kau akan kaget mendengar kalau aku mengaku-ngaku sebagai tunanganmu. Aku benar-benar minta maaf. Perawat tidak mengizinkanku berbicara dengan dokter kemarin malam, padahal saat itu aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Jadi, aku terpaksa mengaku sebagai tunanganmu. Itu ide Emily, sepupuku. Sebenarnya aku sudah ingin mengakhiri kebohongan ini tadi ketika bertemu dengan keluargamu, tapi mereka begitu baik kepadaku. Mereka bahkan mengundangku ke acara Natal keluargamu. Aku bilang aku akan datang besok. Aku berjanji begitu pesta itu selesai, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya tidak ingin kesepian Natal tahun ini. Aku harap kau mau memaafkanku,” Ashley melepaskan genggamannya, mengelap matanya yang berkaca-kaca menggunakan lengan kemeja.
“Nona Keegan, tunggu sebentar,” seorang perawat berteriak memanggil Ashley yang baru saja selesai menjenguk Daniel. “Ada apa?” tanya Ashley pada perawat yang terlihat membawa satu boks kecil berisi barang-barang. “Aku ingin menyerahkan barang-barang Liam Payne kepadamu. Kami mengumpulkan barang-barang ini dari tas pasien semalam ketika ia dibawa kemari,” perawat itu menjelaskan. “Baiklah, terima kasih. Aku akan memberikan ini kepada keluarga Daniel nanti,” kata Ashley sambil mengambil boks itu. “Nona Keegan, aku turut menyesal atas pertunanganmu yang tertunda. Kau tahu, menurutku kau dan Liam Payne adalah pasangan yang sangat serasi,” kata perawat itu lagi. “Terima kasih, Olivia,” balas Ashley setelah melihat name-tag perawat tersebut agar ia tidak salah menyebut nama.
***
“Bagaimana keadaan Daniel, Ash?” tanya Emily ketika Ashley kembali ke apartemen mereka. “Daniel masih belum tersadar dari koma,” jawab Ashley sambil meletakkan sebuah boks kecil di meja. “Apa yang ada di dalam boks?” tanya Emily. “Oh. Itu barang-barang Daniel. Perawat memberikannya kepadaku, besok aku akan menyerahkan boks itu kepada ayah Daniel,” ujar Ashley. “Ayah Daniel? Memangnya kau sudah kenal dengan keluarga Payne?” tanya Emily. “Aku baru bertemu dengan mereka tadi. Belum semuanya sih, hanya ayah, sepupu dan nenek Daniel,” lanjutnya. “Wow! Apakah Liam juga ada di sana?” Emily terdengar sangat bersemangat. Ashley tertawa melihat tingkah laku sepupunya. “Kurasa tidak, Ems. Mungkin besok aku baru bisa bertemu Liam,”kata Ashley. “Besok?” tanyanya lagi. “Ya, besok. Keluarga Payne mengundangku ke pesta Natal tahunan keluarga mereka,” Ashley menjelaskan. “Apakah kau sudah mengatakan yang sebenarnya pada keluarga Daniel? Kalau kau bukan calon tunangannya?” Emily menginterogasi sepupunya. “Itulah masalahnya, Ems. Aku sudah berniat untuk mengatakan kepada mereka tadi, tapi baru saja aku hendak mengatakannya, ayah Daniel memotong kata-kataku. Keluarga Payne sangat baik kepadaku dan aku akan menyakiti perasaan mereka dengan pengakuanku. Tapi aku sudah berkomitmen, besok setelah pesta selesai, aku akan mengatakan yang sebenarnya kalau aku bukan calon tunangan Daniel,” ujar Ashley mantap. “Kau tahu Ems, sebenarnya ada bagian dalam diriku yang berharap aku bisa menjadi bagian dari keluarga Payne, meskipun bukan sebagai calon tunangan Daniel. Ada sesuatu dalam keluarga itu yang bisa menghangatkanmu,” lanjut Ashley menerawang.
Pembicaraan Ashley dan Emily terputus karena mereka mendengar ada suara telepon berdering. Mereka mencari-cari dari mana asal suara itu dan ternyata seseorang menelepon iPhone Daniel yang ditinggalkan di dalam boks dari rumah sakit. Ashley mengambil iPhone itu dan melihat di layar muncul nama penelepon adalah Clarissa.  “Menurutmu, aku harus mengangkat telepon ini?” tanya Ashley kepada Emily. Emily menggeleng, “Diamkan saja, Ash.”
“Kau tahu Ems, sepertinya Clarissa ini punya hubungan yang sangat dekat dengan Daniel. Banyak sekali SMS dan voice mail yang ditinggalkan gadis ini untuk Daniel,” kata Ashley setelah melihat notifikasi di iPhone Daniel. Ashley yang terdorong oleh rasa penasarannya, mulai menyusuri satu-satu histori percakapan Clarissa dengan Daniel. “Ya Tuhan! Ems, Clarissa ini adalah tunangan Daniel yang asli. Mantan tunangan, maksudku. Mereka baru saja putus sekitar sehari sebelum Daniel mengalami kecelakaan dan sekarang Jen ingin kembali pada Daniel. Sepertinya Clarissa sudah menelepon Daniel sebanyak lebih dari 100 kali selama dua hari ini,” Ashley menjelaskan. “Ash, kau harus segera mengakhiri semua ini besok. Lebih cepat, lebih baik. Apabila Daniel bangun dari koma atau Clarissa muncul, keadaan akan menjadi sangat rumit untukmu,” Emily menasehati sepupunya.
***
Malam itu Ashley datang ke rumah Nenek Beatrice untuk menghadiri acara Natal keluarga Payne. Ashley mengenakan sweater rusa yang dipinjamnya dari Emily. Ibu Ashley sangat sibuk sampai ia tidak pernah punya waktu untuk merajut sweater seperti orang tua yang lain. Ashley terlihat sangat manis mengenakan sweater itu, tapi dalam waktu yang bersamaan ia juga tampak gugup membayangkan bagaimana reaksi keluarga Payne setelah mendengar pengakuannya. Namun Emily benar, Ashley harus mengakhiri semuanya sebelum ia terjebak dalam kebohongan lebih jauh lagi.
“Ashley! Akhirnya kau datang juga. Aku akan memperkenalkanmu kepada anggota keluarga kami yang lain,” Nicola sangat bersemangat menyambut Ashley di depan pintu. Nicola mulai mengenalkan Ashley kepada saudaranya, Ruth. Lalu ada Paman George, Bibi Sylvia, Paman James, Bibi Elizabeth si kembar berambut ginger Katherine dan Victoria, dan masih ada beberapa anggota keluarga Payne yang lain yang Ashley masih belum terlalu hapal nama-namanya. “Kemarin rumah sakit memberikan boks yang berisi barang-barang Daniel ini kepadaku,” ujar Ashley sambil menyerahkan boks itu kepada Ruth. Ruth mengambil boks itu “Sebentar ya Ashley, aku akan meletakkan boks ini di tempat yang aman,” bisiknya.
“Semuanya, Ashley sudah datang. Mari kita mulai acara tukar kadonya!” seru Geoff Payne dengan semangat menghampiri Ashley. “Acara tukar kado? Geoff, aku sama sekali tidak menyiapkan kado untuk kalian,” Ashley terdengar panik. “Tenang saja Ashley. Setelah kau bertunangan dengan Daniel, kau akam punya banyak waktu bersama keluarga Payne,” Geoff menepuk bahu Ashley menenangkan gadis itu. “Kau bisa ikut memberikan kado untuk kami mulai tahun depan, tapi sebagai permulaan, tahun ini nenek Betarice telah menyiapkan kado spesial untukmu,” Geoff mengantarkan Ashley ke ruang keluarga Payne, di mana semua orang telah berkumpul di depan perapian.
Rumah nenek Beatrice sangat besar dibandingkan dengan ukuran rumah-rumah pada umumnya di Wolverhampton, terlihat rumah ini sudah turun temurun dihuni keluarga Payne. Ashley memperhatikan bangunan rumah itu tampak sudah berusia ratusan tahun dan banyak sekali foto-foto anggota keluarga Payne tergantung di setiap sudut ruangan di rumah itu. Mereka tampak seperti keluarga besar yang sangat bahagia. Tampak juga ada foto Daniel dan Liam, mereka berdua sangat mirip ketika kecil.  Namun sayang sekali, tampaknya Liam tidak hadir di acara Natal tahunan keluarga Payne, padahal Ashley penasaran pada personel One Direction satu ini yang bisa membuat Emily sampai tergila-gila. Di atas perapian tergantung banyak kaos kaki bertuliskan nama-nama anggota keluarga Payne dan betapa terkejutnya Ashley ketika di ujung ada kaos kaki yang bertuliskan namanya juga. “Hei Ruth, apakah kau memiliki anggota keluarga yang bernama Ashley juga?” bisik Ashley kepada Ruth. Ruth tertawa lebar, tampak giginya yang mengenakan kawat. “Tidak Ash, nenek Beatrice khusus membuatnya untukmu semalam. Kau kan calon tunangannya Daniel, kau akan segera menjadi bagian dari keluarga kami juga. Tunggu saja sampai kau melihat apa yang nenek Beatrice sudah siapkan sebagai kado Natalmu, kau akan sangat terkejut,” Ruth tersenyum penuh arti mengakhiri kalimatnya.
“Baiklah untuk hadiah pertama tahun ini, aku akan memberikannya untuk Ashley,” Nenek Beatrice mengambil sebuah boks di atas meja dekat perapian. Ashley menghampiri nenek Beatrice untuk mengambil kadonya. “Aku harap kau menyukainya Ashley, aku langsung membuatnya semalaman kemarin setelah ketika bertemu di rumah sakit,” kata Nenek Beatrice. Ashley membuka boks itu dan ia mendapati semua sweater berwarna pink cerah sebagai hadiah Natalnya dari keluarga Payne. Ashley benar-benar terharu, baru kali ini ada seseorang yang khusus membuatkan sweater untuknya. “Terimakasih Nenek Beatrice, aku benar-benar menyukai sweater ini,” Ashley memeluk Nenek Beatrice dengan erat. Nenek Beatrice mengelus-elus punggung Ashley, “Sama-sama, Ashley. Selamat datang di keluarga Payne ya,” balas Nenek Beatrice. Ashley kembali ke tempat duduknya dan ia memandangi sweater itu, hatinya mulai dliputi rasa bersalah. Di satu sisi, ia sangat menyukai keluaga Payne dan sangat terharu dengan perhatian yang mereka berikan dan sisi lain, ia tahu ia tidak pantas mendapatkan sweater itu karena ia bukan tunangan Daniel. Clarissa lah yang pantas mendapatkan semua ini, perhatian keluarga Payne dan juga sweater pink tersebut.
Ashley menghela napas panjang, membuka mulutnya dan mengatakan “Perhatian semuanya, ada hal penting yang ingin kusampaikan. Sebenarnya aku…” Ashley sebenarnya sudah tahu kelanjutan kata-katanya, tapi ada sesuatu yang membuatnya lidahnya kaku dan suaranya tidak keluar. “Aku…” Ashley berusaha melanjutkan kata-katanya lagi, tapi ia terus gagal. “Apa yang ingin kau katakan Ashley?” tanya Nenek Beatrice cemas. Melihat tatapan cemas Nenek Beatrice, Ashley benar-benar merasa tidak enak apabila ia harus menyakiti perasaan orang yang telah merajutkan sweater pertamanya. Ashley terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan kata-katanya, “Sebenarnya aku merasa sangat beruntung telah mengenal kalian semua, keluarga Payne, Kalian yang terbaik,” jawab Ashley sambil mengangkat gelas egg-nog nya untuk bersulang.
Malam itu salju turun dengan sangat lebat, tadinya Ashley hendak memaksakan diri untuk pulang naik bis, tapi Karen Payne tidak mengizinkannya karena malam itu cuaca sangat dingin. Karen memaksa Ashley untuk menginap di rumah Nenek Beatrice, Ruth dan Nicola menawarkan Ashley untuk tidur di kamar mereka, tapi Ashley memutuskan untuk tidur di sofa di ruang keluarga Payne. Ia sama sekali tidak bisa tidur karena hatinya dipenuhi rasa bersalah karena telah membohongi orang-orang. Namun bagaimana lagi, Ashley benar-benar tidak tega menyakiti hati keluarga Payne, Ashley sepertinya menyukai keluarga Payne lebih daripada ia menyukai Daniel.
Waktu sudah menujukkan hampir tengah malam, Ashley yang tidak bisa tidur tiba-tiba mendengar ada suara ketukan pintu. Ashley ingin membukakan pintu untuk orang itu, tapi ternyata Nicola sudah buru-buru lari dari kamarnya di lantai atas untuk membukakan pintu. “Ruth, Nicola! Aku tidak percaya ini. Kalian hampir sama tingginya denganku!” Ashley bisa mendengar bahwa itu adalah suara seorang pria yang sedang berbicara. “Liam, pelankan suaramu. Nanti kau bisa membangunkan Ashley,” balas Nicola. Ashley kaget begitu mendengar Nicola mengucapkan nama itu. Akhirnya Liam muncul juga. Ashley bisa membayangkan kalau Emily yang ada di posisinya sekarang, pasti Emily akan langsung berteriak heboh menghampiri Liam. Ashley bukan Emily, Ashley malah menarik selimutnya lebih dalam, mencoba untuk tidur dan tidak ingin mencampuri urusan Liam dan kedua adiknya.
Keesokan paginya, Geoff Payne meminta Liam untuk mengantar Ashley pulang ke apartemennya. Ashley dan Liam berkenalan pertama kali dalam suasana yang amat canggung. Liam sangat dingin menanggapi Ashley, sangat berbeda jauh dengan tanggapan anggota keluarga Payne yang lain. Hampir 15 menit pertama perjalanan mobil dari rumah keluarga Payne ke apartemen Ashley berlalu tanpa ada satu kata pun yang diucapkan dari Ashley ataupun Liam. Ashley berusaha mencairkan suasana dan mengajak Liam ngobrol duluan. “Terima kasih Liam kau sudah mau mengantarkanku pulang.” “Sama-sama Ashley,” jawab Liam pendek. “Aku tahu kau pasti sangat lelah baru tengah malam malam tiba di rumah dan paginya kau harus bangun dan mengantarkanku pulang,” kata Ashley tidak enak. “Tidak masalah. Aku sudah terbiasa seperti ini. Hanya tidur beberapa jam dan besoknya aku harus bangun pagi-pagi dan mengerjakan aktivitas yang lain,” Liam menjelaskan.
Bagi Ashley perjalanan mobil dengan Liam selama 30 menit tersebut adalah salah 30 menit tercanggung dalam hidupnya. Ashley hanya ingin cepat-cepat turun dari mobil. “Kau bisa menurunkanku di sini Liam, apartemenku tinggal beberapa meter saja,” ujar Ashley. Liam memberhentikan mobilnya, kemudian ia menatap Ashley dengan tajam. “Aku tahu kau bukan tunangan sepupuku. Daniel pernah memperkenalkan tunangannya kepadaku, ketika kami bertemu di London. Nama tunangan Daniel adalah Clarissa, bukan Ashley dan ia juga beberapa tahun lebih tua daripada kau,” kata-kata Liam membuat Ashley sangat ketakutan. “Kau tidak percaya padaku?” tanya Ashley balik. “Mana buktinya kalau memang kau tunangan Daniel?” Liam semakin sengit menuduh Ashley. “Clarissa dan Daniel sudah membatalkan pertunangan mereka, Liam. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanya Daniel ketika ia sadar nanti,” kata Ashley mantap karena kali ini ia tidak berbohong. “Benarkah? Wow! Aku benar-benar minta maaf telah menuduhmu Ashley,” tiba-tiba Liam yang dingin jadi berubah 180 derajat. Ia tampak sangat merasa bersalah dan mengeluarkan senyum permintaan maafnya yang tulus.
***
“Ashley! Kau tidak percaya siapa yang datang ke Starbucks sore ini,” Emily berteriak histeris di dapur Starbucks. “Biar kutebak, kalau kau histeris seperti ini..One Direction?”  jawab Ashley asal. “Bagaimana kau bisa tahu? Liam Payne ada di sini Ashley!” Emily berteriak semakin kencang. “Wow. Tenangkan dirimu, Ems. Teriakanmu bisa memecahkan cangkir-cangkir yang sedang kucuci,” Ashley meledek sepupunya. “Liam memang sedang ada di Wolverhampton kan, wajar kalau ia datang ke Starbucks,” lanjut Ashley. “Tapi ia kemari mencarimu, Ash,” Emily memelankan suara, ia terdengar serius. Ashley yang sudah selesai mencuci piring terakhirnya, segera mengelap tangan dan langsung ke luar dari dapur. “Sampaikan terima kasihku pada Liam karena sudah mau foto bareng,” teriak Emily dari dapur.
“Kata Emily, kau mencariku. Ada apa Liam? Dari mana kau tahu aku bekerja di sini?” Ashley mendekati meja Liam. “Hai Ash! Nicola memberi tahuku kalau kau bekerja di sini. Ia melihat seragam yang kau kenakan ke rumah sakit beberapa hari lalu. Aku hanya ingin minta maaf atas sikapku tadi pagi dan mungkin kita bisa mengobrol sebentar,” kata Liam. “Baiklah, kita bisa ngobrol di sini. Kau tidak keberatan kan menungguku sampai selesai membereskan dapur? Kau ingin pesan apa? Aku yang traktir,” tanya Ashley. “Vanilla latte, tanpa gula,” jawab Liam pendek.
“Aku tidak menyangka kau punya selera kopi yang sama dengan sepupumu,” ujar Ashley sambil meletakkan secangkir vanilla latte pesanan Liam. “Ngomong-ngomong ke mana sepupumu? Ia benar-benar histeris ketika melihatku, aku pikir ia akan pingsan,” kata Liam polos. Ashley tertawa mendengar ucapan Liam. “Emily sudah pulang tadi lewat pintu belakang, she’s going to have a date with her boyfriend,” jawab Ashley. “Emily is the biggest Directioner, I’ve ever known in my life,” Ashley mempromosikan sepupunya. “Apakah kau juga seorang Directioner?” tanya Liam penasaran. “Kalau boleh jujur, aku lebih sering mendengarkan lagu Coldplay dan Adele di iPod ku. Tapi, aku menyukai lagu-lagu kalian di album kedua, terutama “Little Things”. Aku mendengarkan laguitu dan membayangkan gadis yang kalian dedikasikan lagu itu adalah gadis yang paling beruntung di dunia ini. Apakah kalian banyak menulis lagu di album ini? Liriknya banyak terdengar seperti curahan hati yang mendalam,” tanya Ashley penasaran. “Produser memang memberikan kesempatan kepada kami untuk menulis lebih banyak lagu di album ini,” jawab Liam.
Daniel sudah mengalami koma selama seminggu dan sudah hampir 5 hari belakangan ini pula Liam selalu datang mengunjungi Ashley ketika Starbucks tutup hanya untuk mengobrol ringan dengan gadis itu. Ashley juga tidak keberatan meluangkan waktu untuk berbicara dengan Liam. Lain dengan Emily, Ashley tidak mengenal Liam sebagai anggota One Direction, boyband nomor satu di dunia saat ini. Ashley hanya melihat Liam sebagai seorang pria muda dari Wolverhampton yang sebaya dengannya, memiliki kepribadian yang menarik dan selalu menyenangkan untuk diajak mengobrol.
“Aku tidak percaya kau pernah ke Jepang, Liam!” seru Ashley bersemangat sore itu. “Aku selalu ingin pergi ke Jepang. Aku menonton banyak anime, mempelajari kebudayaan Jepang, bahkan aku bisa sedikit berbicara dalam bahasa Jepang, tapi aku tidak pernah ke sana. Ceritakan padaku, bagaimana rasanya menggelar konser di Jepang? Apakah Directioners di sana lebih histeris daripada Emily?” Ashley memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Liam. Liam tertawa mendengar semua pertanyaan Ashley, kemudian ia mulai menjawabnya. “Jepang adalah negara di Asia yang pertama kali kami kunjungi untuk tur dunia. Aku suka berada di sana, Jepang memiliki kebudayaan yang jauh berbeda dengan Inggris, tapi itu sangat menarik. Directioners di sana sangat bersemangat dan mereka sangat kreatif. Mereka banyak membuat poster-poster lucu untuk menyambut kami. Aku ada boneka hinamatsuri dari Jepang. Aku tadinya mau memberikannya untuk Ruth dan Nicola, tapi ternyata mereka tidak begitu suka boneka seperti itu. Aku akan membawakannya untukmu besok,” Liam menawarkan dengan tulus.
“Hei Liam, apa malam ini kau ada acara? Para barista di Starbucks akan mengadakan malam karaoke di apartemenku dan aku secara khusus mengundangmu untuk menjadi bintang tamu,” ajak Ashley. Liam mengernyitkan dahinya, ia tampak ragu-ragu. “Ayolah Liam! Ini akan menyenangkan. Kau bisa menjadi juri selebriti di acara kami,” lanjut Ashley. “Baiklah, Ash,” jawab Liam sambil tertawa. Liam dan Ashley sudah turun dari mobil dan mulai berjalan menyusuri halaman parkir apartemen dan tiba-tiba salju turun dengan sangat lebat. Ashley yang tidak tahu cuaca akan menjadi dingin, malam itu hanya mengenakan jaket yang tidak terlalu tebal. Ia terlihat gemetaran ketika berjalan. Liam yang melihat Ashley gemetaran langsung melepaskan jaket tebalnya dan mengenakannya pada Ashley. “Jangan repot-repot Liam, Sedikit dingin sudah biasa kok,” ujar Ashley hendak melepaskan jaket itu. Liam memegang tangan Ashley, menghentikan gadis itu melepas jaketnya. “Tidak apa-apa Ash. Kau adalah calon tunangan sepupuku. Aku akan merasa bersalah sekali pada Daniel apabila aku tidak menjagamu dengan baik selama ia tidak ada,” kata Liam mantap. Wajah Ashley sedikit memerah, ketika Liam mengenakan kembali jaket itu padanya, jantungnya berdebar kencang dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. “Terima kasih, Liam,” ujar Ashley canggung.
Malam karaoke di apartemen Ashley dan Emily berlangsung sangat seru. Kegiatan ini merupakan acara rutin para barista di Starbucks setiap bulannya. Bagi Ashley dan Liam ini adalah kali pertama mereka mengikuti malam karaoke Starbucks. “Liam bagaimana kalau kau menyanyikan sebuah lagu untuk kami semua di sini? Kapan lagi kami bisa punya kesempatan menyaksikan penamplian langsung personel One Direction di hadapan kami secara gratis” celetuk William, salah satu barista yang hadir pada malam itu. Semua yang hadir ikut mendukung permintaan William, “Liam, Liam, Liam,” seru yang lain menyemangati Liam untuk tampil. Liam meminjam sebuah gitar milik James, salah satu tamu malam itu dan mulai bersiap-siap akan tampil menyanyikan sebuah lagu. Semua yang hadir bertepuk tangan menyambut penampilan Liam. Liam menyanyikan lagu “They Don’t Know About Us” secara akustik. Emily memperhatikan gerak-gerik Liam yang sering mencuri-curi pandang ke Ashley selama menyanyikan lagu itu. “Ash, kurasa Liam menyanyikan lagu ini untukmu,” bisik Emily. “Jangan bercanda, Ems. Tadi sebelum masuk ke sini, Liam sudah bilang kok kalau ia hanya menganggapku sebagai calon sepupu iparnya,” balas Ashley, meskipun dalam hati, ia berharap apa yang dikatakan Emily tentang Liam itu benar adanya.
***
Paginya, Ashley terbangun dengan melihat ada 20 missed calls dan sebuah SMS dari Nicola. Ashley membaca SMS tersebut dan isinya mengatakan bahwa Daniel sudah sadar dari komanya dan ingin berbicara empat mata dengan Ashley. Ashley langsung lemas membaca SMS dari Nicola, ia tahu kebohongannya akan segera terbongkar. Ashley segera bergegas menuju Rumah Sakit St. Claire.
Ruang perawatan Daniel terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda keramaian dari keluarga Payne di sana. Ashley membuka pintu ruangan itu dengan hati-hati dan ia melihat Daniel yang tampaknya sudah menunggu Ashley dari tadi. “Hai Ashley!” sapa Daniel ramah. Berlawanan dengan Daniel, Ashley tampak sangat ketakutan melihat Daniel. “Hai Daniel!” sapa Ashley balik.
“Semua orang terus-menerus bertanya padaku tentang dirimu. Apakah aku mengingat kau sebagai calon tunanganku dan tentu saja aku bilang tidak karena memang kita tidak bertunangan kan? Atau memang kita bertunangan dan aku sudah mengalami amnesia akibat jatuh dari platform subway?” tanya Daniel sungguh-sungguh. “Aku benar-benar minta maaf, Daniel. Aku tahu kau pasti akan kaget mendengar apa yang telah kulakukan padamu,” jawab Ashley lirih. “Terus terang, ketika ayahku menyebutkan calon tunanganku bernama Ashley, aku langsung teringat padamu. Gadis barista di Starbucks yang melayani pesananku di pagi sebelum kecelakaan dan ternyata benar dugaanku. Aku sama sekali tidak marah. Aku malah sangat beterima kasih kau telah mengantarkanku ke rumah sakit dan memastikan aku baik-baik saja,” kata Daniel. “Lalu bagaimana dengan tunanganmu yang sebenarnya? Aku benar-benar merasa tidak enak,” lanjut Ashley lagi. “Santai saja, Ash. Aku tidak bertunangan dengan siapa-siapa sekarang. Clarissa telah memutuskan pertunangan kami, meskipun sebenarnya aku masih sangat menyanyanginya,” Daniel terlihat sedih meratapi nasib percintaannya yang buruk. “Kau tahu, aku benar-benar terkejut karena nenek dan ayahku tampaknya sangat menyukaimu dan mereka berharap kau benar-benar akan menjadi bagian dari keluarga Payne. Mereka tidak pernah bersikap begitu kepada Clarissa,” lanjut Daniel. “Kurasa siapapun yang bisa menjadi bagian dari keluarga Payne akan sangat beruntung karena keluargamu benar-benar luar biasa, Daniel,” jawab Ashley.
“Apakah kau mau menolongku?” tanya Daniel tiba-tiba. “Melihat semua kekacauan yang telah kubuat tentu saja aku harus menebus kesalahanku padamu,” jawab Ashley. “Bagaimana kalau kita pura-pura bertunangan? Aku akan mengundang Clarissa dan apabila ia masih mencintaiku, ia pasti akan menghentikan pertunangan ini dan kau bisa terbebas dari sandiwaramu tanpa perlu menjelaskan apa-apa. Kita sama-sama untung bukan?” Daniel memberikan penawaran pada Ashley. Dengan cepat Ashley langsung mengangguk menyetujui rencana Daniel.
Daniel dan Ashley mengadakan acara pertunangan mereka pada akhir pekan di halaman belakang rumah Payne. Semua anggota keluarga Payne tampak sangat antusias mempersiapkan acara ini, terutama nenek Beatrice. Nenek sampai khusus membelikan Ashley sebuah gaun berwarna kuning cerah yang akan dikenakan pada hari pertunangan Ashley dengan Daniel. Selain Daniel dan Ashley, hanya Emily yang tahu bahwa rencana pertunangan Daniel dan Ashley ini adalah rekayasa untuk Daniel kembali pada Clarissa dan Ashley bisa lepas dari kebohongannya pada keluarga Payne.
“Kau yakin tidak akan memberi tahu kedua orang tuamu kalau kau akan bertunangan? tanya Emily kepada Ashley ketika mereka berdua sedang bersiap-siap sebelum acara. “Ini hanya pertunangan bohongan, Ems. Aku tidak mau orang tuaku sampai repot-repot datang dari Afrika untuk menghadiri pertunangan yang pasti 100% akan gagal,” jawab Ashley cuek sambil merapikan gaun kuningnya. “Lalu bagaimana dengan Liam, Ash? Kau sudah siap kalau harus menjauh darinya?” tanya Emily lagi. Ashley terdiam sejenak, ia benar-benar tidak tahu jawaban atas pertanyaan Ashley. Dalam hati kecilnya, Ashley sangat takut apabila ia harus kehilangan Liam. “Kita lihat saja nanti,” jawab Ashley datar.
Sementara itu di ruangan yang berbeda, Liam dan Daniel sedang bersiap-siap. “Daniel, Nenek ingin kau menggunakan cincin ini untuk melamar Ashley,” ujar Liam sambil menyodorkan sebuah kotak cincin kepada Daniel. “Sekarang aku baru mengerti mengapa nenek, paman dan bibi, Ruth dan Nicola, serta kau sangat menyukai Ashley. Ashley gadis yang baik, dia pantas mengenakan cincin milik nenek di jari manisnya. Aku benar-benar berharap hubungan kalian bisa selanggeng kakek dan nenek,” lanjut Liam tulus. Daniel bisa merasakan kalau adiknya memiliki perasaan pada Ashley. “Aku berjanji padamu, semuanya akan berakhir bahagia, Liam,” kata Daniel sambil mengedipkan matanya.
Acara pertunangan Daniel dan Ashley siap dilaksanakan. Seluruh anggota keluarga Payne telah duduk di kursi mereka masing-masing, Daniel dan Ashley sudah berdiri di hadapan para tamu. Daniel berlutut di hadapan Ashley, mengeluarkan sebuah kotak cincin dari kantong jasnya. Daniel membuka kotak itu dan tampak sebuah cincin sapphire yang sangat indah. “Ashley Katherine Keegan, maukah menikah denganku?” Daniel mengajukan pertanyaan. Wajah Ashley memerah sepersekian detik mendengar ucapan Daniel, meskipun ia tahu Daniel hanya berpura-pura mengatakan itu. Ashley mengalihkan pandangannya ke arah Liam berharap Liam akan melakukan sesuatu untuk membatalkan pertunangan ini, tapi Liam hanya tersenyum dan menyemangati Ashley untuk menerima lamaran Daniel.
“Aku keberatan! Hentikan pertunangan ini!” teriak seorang wanita.
“Clarissa?” ujar Daniel setengah kaget. Daniel tidak bisa membohongi dirinya kalau ia senang melihat Clarissa datang.
“Siapa gadis ini, Daniel? Salah satu dari mantan pacarmu? Berani-beraninya ia datang kemari dan mencoba menghentikan pertunanganmu dan Ashley,” Nenek Beatrice marah besar. Liam segera bangun dari tempat duduknya dan menarik Clarissa menjauh dari acara pertunangan Daniel dan Ashley. “Daniel, lakukan sesuatu! Aku ini tunanganmu kan?” teriak Clarissa lagi. Ashley melihat Daniel yang kebingungan, ia ingin menolong Clarissa, tapi ia tidak berani melawan kemarahan Nenek Beatrice.
“Liam, lepaskan Clarissa. Clarissa adalah tunangan Daniel yang asli dan aku lah yang telah berbohong mengaku-ngaku sebagai tunangan Daniel,” ujar Ashley tiba-tiba. Liam langsung melepaskan Clarissa saking terkejutnya mendengar pengakuan Ashley.
“Apa maksudmu, Ashley? Mengapa kau mencoba membohongi kami semua?” tanya Liam sengit.
“Ashley tidak salah. Ia terpaksa mengaku sebagai tunanganku karena malam setelah mengantarkanku ke rumah sakit, perawat tidak mengizinkan Ashley yang tidak memilki hubungan apa-apa denganku untuk berbicara dengan dokter. Maksud Ashley baik, kalian jangan menyalahkan dia dan lagipula acara pertunangan ini juga ideku. Aku yang meminta Ashley untuk berpura-pura bertunangan denganku, Daniel menjelaskan.
“Lalu apa yang membuatmu berbohong sampai selama ini Ashley? Mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya dari awal?” tanya Geoff Payne.
“Itu semua karena aku sudah terlanjur menyukai kalian semua, seluruh anggota keluarga Payne. Aku takut apabila aku mengatakan yang sebenarnya, aku akan kehilangan kalian yang sudah membuatku akhirnya bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Aku benar-benar minta maaf. Masih ada satu hal lagi yang harus kukatakan, aku memang menyukai salah seorang anggota dari keluarga ini dan bukan Daniel yang aku maksud, tapi Liam,” Ashley berusaha tegar mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Suasana pesta yang tadinya hening menjadi kacau seketika, seluruh keluarga Payne jadi sibuk sendiri berkomentar akan apa yang baru saja terjadi. Ashley dan Emily merasa ini kesempatan yang baik untuk segera meninggalkan rumah keluarga Payne.
“Kau baik-baik saja, Ash?” tanya Emily pada sepupunya. Ashley sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun dari saat pengakuannya di depan keluarga Payne, sampai mereka sudah sampai di halte bis.
“Aku tidak baik-baik saja, Ems. Apa yang harus aku lakukan?” Ashley langsung menangis di pelukan Emily. Emily memeluk Ashley erat, mengusap-usap punggung Emily. “Aku benar-benar minta maaf, Ash. Semua ini ideku,” bisiknya lirih.
***
Hari ini adalah hari terkahir Ashley bekerja paruh waktu di Starbucks, besok ia akan terbang kembali ke London untuk melanjutkan kuliahnya.
“Thanks Emily for letting me spends my winter break in Wolverhampton. Such a crazy experience, but I’m so lucky to have my cousin by my side all the time,” ujar Ashley sambil mengerjakan tugasnya terakhirnya di Starbucks, mencuci gelas dan piring di dapur. “You’re very welcome, Ash. But I think you should thank the Payne family for the experience they gave you,” balas Emily yang membantu Ashley mengelap piring. “Aku rasa begitu, hampir sebagian besar dari liburan ini adalah tentang keluarga Payne. Well, just don’t mention about them anymore. They’re a great family, but I’m no longer part of them,” balas Ashley datar.
“Ems, sepertinya ada yang memencet bel dari meja kasir, aku cek dulu ya,” Ashley keluar dari dapur dan melihat di depan meja kasir, ada Ruth dan Nicola Payne. Ashley sedikit terkejut melihat mereka karena sudah seminggu sejak kejadian di rumah keluarga Payne dan tidak ada satupun dari mereka yang menghubungi Ashley lagi. “Hai Ash! Aku tahu toko sudah hampir tutup, tapi apakah kami masih bisa memesan kopi?” pinta Ruth dengan sedikit memohon. Ashley tersenyum melihat mereka berdua, “Kalian hanya berdua? Tentu saja. Kau ingin pesan apa?” tanyanya. Kami sebenarnya sedang menunggu seseorang. Can we have a cup of vanilla latte with no sugar?” jawab Nicola. “No problem. Sebentar ya, aku akan ke dapur menyiapkan pesananmu,” ujar Ashley ramah.
Ashley keluar dari dapur dan ia makin terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya, Nicola dan Ruth tiba-tiba sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan Liam yang sedang berdiri di depan meja kasir. “Liam? Mengapa tiba-tiba kau muncul di sini? Ke mana adik-adikmu?” tanya Ashley bingung. Liam tertawa kecil mendengar pertanyaan Ashley. “Sebenarnya mereka memesan kopi itu untukku,” jawabnya. “Baiklah, semuanya jadi 4,5 pounds, Liam,” kata Ashley. “OK, Ash,” Liam kemudian merogoh uang dari kantongnya untuk membayar kopi itu. Namun ternyata bukan uang yang keluar dari kantong jeans Liam, tapi sebuah cincin sapphire yang tampak tidak asing bagi Ashley.
“Kau tahu kalau Starbucks hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang tunai kan?” sindir Ashley. “Tapi aku tidak bermaksud membayar pesanan kopiku dengan cincin ini, cincin ini untukmu,” Liam menyodorkan cincin itu ke arah Ashley. “Kau jangan bercanda Liam,” balas Ashley mengembalikan cincin itu ke arah Liam.
“Cincin itu sekarang jadi milikmu Ashley,” ujar sebuah suara tiba-tiba. Ashley mencari asal suara itu dan ternyata suara itu adalah suara nenek Beatrice yang datang dengan Nicola, Ruth, Daniel, dan Clarissa. Ashley tidak mengerti maksud perkataan nenek Beatrice, “Cincin itu kan harusnya jadi milik Clarissa karena ia yang akan menikah dengan Daniel, bukan aku,” balasnya polos. “Aku tidak memerlukan cincin itu lagi Ashley. Selama aku bisa bersama dengan Daniel, aku tidak peduli cincin apapun yang melekat di jari manisku,” celetuk Clarissa sambil menatap Daniel dengan mesra. Ashley turut senang melihat akhirnya Daniel dan Clarissa bisa bahagia bersama.
 “Tidak Liam, aku tidak mau menikah denganmu, Mungkin tidak untuk sekarang ini,” Ashley tertawa canggung menutupi kebingungannya. Liam tertawa geli mendengar ucapan Ashley, “Kau benar-benar salah paham, Ash. Kau bahkan belum mendengar pertanyaanku. Baiklah Ashley Katherine Keegan, apakah kau mau menjadi pacarku? tanya Liam serius. Seketika wajah Ashley langsung memerah dan jantungnya berdetak sangat cepat. Ashley tahu kalau ini pertanyaan yang sudah lama ia tunggu dari Liam, tapi saat yang sama ia benar-benar terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa. Ini pertama kalinya seorang pria menyatakan perasaannya pada Ashley. Ashley terdiam cukup lama sambil menatap cincin itu.
“For God’s sake, Ashley. Just say yes. I know you’ve been waiting for this your whole life,” teriak Emily yang muncul dari balik pintu dapur. “Ems, you’re embarrassing me!” gerutu Ashley. Ashley kemudian mengangguk malu-malu, “Ya, Liam James Payne, aku mau jadi pacarmu.” “Tidak usah panik, Ash. This is just a promise ring, OK?” bisik Liam memasangkan cincin di jari manis Ashley. Semua orang yang menyaksikan kejadian tadi bertepuk tangan meriah dan mereka memberikan selamat kepada Liam dan Ashley. Senyum terus mengembang di wajah Ashley, ia tidak pernah merasa lebih bahagia daripada hari itu.
***
“You know that I had a huge crush on your family first, and then on you right?” kata Ashley keesokan harinya dalam penerbangan menuju London. Liam tertawa lebar, “I know, is my family the best one in the world?” tanya Liam balik. “They are,” jawab Ashley pendek sambil menyandarkan kepalanya di bahu Liam.
Liburan musim dingin sudah berakhir. Ashley melanjutkan kuliahnya lagi di Universitas London dan Liam juga kembali beraktivitas dengan One Direction. Liam dan Ashley sepakat untuk menjaga agar hubungannya jauh dari sorotan media. Tentu saja anggota One Direction yang lain tahu tentang Liam dan Ashley dan mereka sangat mendukung hubungan keduanya. Ketika pernikahan Daniel dan Clarissa pun, Ashley datang mendampingi Liam, namun ia berhasil lolos dari sorotan paparazzi. Liam dan Ashley memang sengaja merahasiakan hubungan mereka dari media karena Ashley hanya melihat dirinya berpacaran dengan Liam anggota keluarga Payne, bukan Liam Payne anggota dari boyband nomor satu dunia, One Direction.

No comments:

Post a Comment