Saturday, July 20, 2013

That's Her Name

Juara 3 #1DFanficContest13 


LOLS


Apakah karena suasana malam terlalu hening sehingga aku bisa mendengar degup jantungku sendiri? Aku juga tak mengerti kenapa bisa sekuat itu. Nafasku saja aku sampai tidak bisa mengendalikannya. Cepat sekali. Ini sudah kelima kalinya aku melihat huruf-huruf itu di dalam tidurku. Aku tidak mengerti sama sekali. Sebenarnya apa yang ditunjukkan Tuhan sehingga aku selalu terbangun tengah malam seperti ini?
Aku beranjak dari tempat tidurku. Memperhatikan diriku melalui pantulan cermin, kurangkai huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Sembari berpikir, aku mendongakkan kepalaku. Kudapati diriku yang baru bangun tidur ini sedang berpikir tengah malam seperti orang bodoh.
***
Gadis ini lagi-lagi berdiri di hadapanku memamerkan sebaris kawat giginya. Memandangku dengan tatapan kagum. Dia adalah gadis yang selalu membuatku pusing. Dia selalu ada di hadapanku. Padahal telah kuperintahkan dia untuk berhenti. Tapi sepertinya perintahku hanya lewat telinganya saja.
“Hai.. Lou.. Kau sudah sarapan?” tanyanya saat aku mencoba untuk melewatinya.
“Uhmmm.. Mungkin belum” Hanya demi image- ku aku membalas petanyaannya. Pertanyaan sama yang selalu ia lontarkan setiap pagi.
“Kau mau ini?” Dia menyodorkan sebuah lolipop kepadaku. Orang lapar mana mungkin makan lolipop. Pikirku. Tapi demi image-ku, aku terpaksa menerimanya.
“Thanks” Dia pun tersenyum dengan bahagianya. Masih memandangku. Sedangkan aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis andalanku.
Sepanjang pelajaran, aku hanya memutar lolipop itu. Tidak memakannya. Apa yang merasuki perempuan itu? Aku tahu aku memang tampan, tinggi, cool, dan yah.. mungkin memang tidak terlalu pintar.. tapi sedikit.. ya sedikit pintar, dan humoris.  Tapi dari segi mana, diriku telihat menarik untuknya? Aku tahu dia memang sedikit nerd, norak, dan termasuk golongan murid yang selalu belajar, belajar, dan belajar. Aku memang tidak satu kelas dengannya. Tapi dari kacamatanya yang besar dan selalu bertengger di hidungnya itu, bisa menjelaskan semuanya.
Lolipop yang kugenggam ini hampir jatuh saat kudengar suara teriakan yang cukup familiar di telingaku.. Siapa lagi kalau bukan suara Niall?
“Hey.. Lou.. Apa yang kau lakukan?” tanya Niall menggebrak meja di hadapanku. Terkejut, aku langsung menyadarkan diriku dan membalas pertanyaannya.
“Uhmm.. Nothing..” jawabku canggung.
“Ayo kita segera ke kantin.. Aku takut jika stik coklat itu habis diserbu yang lain. Ayo Lou” Niall menarik tanganku kuat sehingga aku berdiri. Aku baru sadar jika pelajaran Bu Madison sudah habis digantikan oleh jam istirahat. Selama itukah aku melamun.
“Apa itu?” tanya Niall menunjuk lolipop yang masih kegenggam. Langsung saja aku berikan padanya. Mengingat dia memang penyuka makanan. Tidak salah kan?
“Oh.. Thanks Lou... Tapi kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Jika kau masih menunggu jawabanku, aku akan mengambil lolipop itu kembali” jawabku dingin. Menjelaskan pada Niall sama saja menghabiskan napas. Detik itu juga Niall langsung menutup mulutnya dengan lolipop. Lihat.. Dia bahkan lupa membuka bungkusnya.
***
Ini hari kedua aku memimpikannya.. Aku memimpikan seorang perempuan memberikanku secarik kertas bertuliskan ‘brace’ dengan huruf R ‘besar’. Apakah ini tandanya huruf R setelah sebelumnya aku menemukan huruf G??

Gelap, disini gelap sekali... Aku bahkan tak dapat melihat tanganku. Aku juga bahkan tak dapat memegangnya!! Apakah ini yang disebut surga? Tapi aku tidak yakin karena di sini gelap sekali. Jadi di mana aku? Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lewat di depanku. Aku tidak tahu pasti tapi sepertinya itu seseorang. Dia berdiri membelakangiku. Ketika hendak membalikkan badannya, tempat ini menjadi terang kembali. Mengingat seseorang yang telah membuatku penasaran berada di hadapanku, segera aku mengalihkan pandanganku kepadanya. Tapi yang kudapati hanyalah ruangan kosong berwarna putih. Tiba-tiba secarik kertas terangsur di mukaku. Dengan segera aku mengambilnya dan sedikit kurapikan kertas yang sudah lusuh dengan mengibaskannya. Di sana terdapat 5 susun garis panjang dengan sebuah not kunci. Aku tidak tahu pasti tapi kuyakini jika itu adalah kunci G karena berada di awal 5 garis panjang itu. Tak lama seseorang itu memberikan sebuah kacamata. Kucoba mengamati wajahnya. Tapi tidak kelihatan karena tertutup rambut panjangnya yang lurus. Aku mencoba menutup mataku dan membukanya kembali. Ternyata kudapati diriku berbaring di atas kasur.

Kira-kira seperti itulah mimpiku yang sebelumnya. Aku tidak mengerti dengan mimpiku sendiri. Kuharap ini bukanlah mimpi buruk.
***
Mimpi semalam membuatku malas bersekolah. Apalagi Bu Dini mengambil jam pertama. Membuatku tambah malas.
Sesampainya di kelas, kudapati Harry si rambut keriting dengan Niall si rambut pirang menduduki mejaku. Dua bocah ini terlihat sedang mengagumi kacamata. Sepertinya kacamata baru. Biar kutebak.. pasti ini milik Harry. Aku sudah membayangkan dirinya menggoda perempuan di sekitarnya dengan kacamata barunya.
“Morning Louis” sapa Harry melambaikan tangannya dan menunjukkan lesung pipinya.
“Kacamata yang bagus, Haz” aku memuji kacamata yang bertengger di hidungnya.
“Tentu.. Kacamata ini baru dibelikan Anne kemarin malam” sudah kuduga
“Look how sexy i am” katanya sambil memeragakan seorang model bergaya di catwalk. Bedanya, dia mengibaskan rambut keritingnya yang menurutku lucu itu.
“Ya.. ya terserah padamu, Haz.. But your glasses is amazing” kata Niall
“What about me?” tanya Harry dengan jari telunjuknya mengarah padanya.
“Kau lebih mirip tukang sampah.. Hahahha” jawab Niall membuatku tertawa geli. Tapi tunggu.. kacamata? Bukankah itu yang muncul di mimpiku. Glasses di awali dengan huruf G.
“Hahahahahaha” terdengar gelak tawa muncul di belakang kami. Sontak aku menoleh dan kudapati Zayn dan Liam di sana.
“Apa yang kalian tertawakan?” tanyaku heran saat kuperhatikan sekelilingku. Tidak ada yang lucu.
“Kenapa kau tertawa Zayn?” Liam balik bertanya pada Zayn.
“Aku tertawa karena mereka tertawa” jawab Zayn polos. “Kenapa kau tertawa Liam?”
“Aku tertawa karena kau tertawa, Zayn” jawab Liam yang sekarang memainkan curls Harry.
“Watch out Liam.. Harold is mine” Aku langsung mengambil posisi Liam. Aku tidak ingin curls Harry dimainkan orang lain. Kalian tahu? Aku berani bertaruh jika jutaan wanita di dunia ini pasti ingin memegangnya.
Aku langsung melirik Liam yang sedang menatapku dengan tatapan ‘Okay Lou.. terserah kau saja’
Aku, Harry, Niall, Liam, dan Zayn memang berteman akrab bahkan sangat akrab. Kami bahkan tinggal bersama dengan menyewa tempat di dekat sekolah. Ini memang sedikit menguji kemandirian kami. Kami saling mengenal satu sama lain. Bahkan kebiasaan mereka pun aku hapal. Kebiasaan kentut Niall misalnya. Banyak kejadian-kejadian lucu di antara kami. Aku dan Harry pernah berenang hanya mengenakan boxer. Setelahnya, kami menempelkan boxer basah itu ke wajah Niall. Itu tidak akan kulupakan saat wajah Niall memerah karena kesal. Dia bahkan pernah tidak mau berbicara denganku saat kucuri chips kesukaannya. Bersama dengan mereka membuatku melupakan masalah yang kuhadapi.
Sepanjang jalan menuju kantin, kami berlima melangkah dengan kaki yang sama dan gaya yang sama. Mantap dan percaya diri. Itulah kami. Puluhan gadis-gadis mengekor di belakang kami dengan ekspresi mereka yang histeris. Harry yang paling semangat dalam hal ini. Dia berlagak bak seorang artis yang menjumpai penggemarnya. Dia bahkan dengan senantiasa menerima nomor handphone yang gadis-gadis itu berikan. Kami berempat biasanya hanya menggelengkan kepala melihatnya. Aku sendiri tidak tahu sebab gadis-gadis itu melakukan hal seperti itu setiap harinya. Aku mulai bosan.
“Hey.. Lou.. Itu penggemar setiamu” Niall menunjuk seorang perempuan dengan kacamata besar sedang memamerkan kawat giginya. Ternyata perempuan yang sama. Dan tatapan yang sama.
“Hai.. Lou.. Kau sudah makan?” tanyanya. Masih dengan pertanyaan yang sama.
“Uhmm.. Aku memang sedang mencari makan” jawabku malas.
“Terimalah ini.” Lagi-lagi gadis ini menyodorkan makanan padaku. Tapi makanan yang dia sodorkan bukan lagi lolipop melainkan wortel.
“Wortel? Lou.. dia tahu tipe perempuan yang kau suka” kagum Zayn.
“I like girl who eat carrots” Liam menirukan gaya bicaraku. Aku hanya menatap mereka sinis.
“Maaf.. nerd.. aku tak bisa menerimanya.” Jawabku dingin seraya berlalu meninggalkannya. Menabrak bahunya. The boys mengikuti di belakangku. Aku yang paling tua di sini. Jadi aku terlihat menjadi leader di antara mereka.
“Sebenarnya apa yang dia inginkan darimu, Lou?” Harry melemparkan pertanyaan begitu sampai di kantin yang membuatku hilang nafsu makan.
“Ya, dia sama sekali bukan tipemu.” Timpal Liam.
“Sepertinya aku suka dia” tambah Niall mengunyah wortel dan lolipop sekaligus. Heran darimana dia mendapatkannya, aku mengintrogasinya.
“Sebenarnya gadis itu memberikannya padaku untuk disampaikan kepadamu. Karena perutku yang sudah meronta ini tidak sabaran, jadi kumakan saja. Kau tidak keberatan kan?” Niall terus saja mengunyah wortel itu membuatku kurang mengerti ucapannya. Karena tahu ucapannya tidak terlalu penting, aku hanya menggelengkan kepala. Mengiyakan.
“Louis, kau bahkan tidak menjawab pertanyaanku” Harry memajukan bibir bawahnya tanda kesal kepadaku. Aku hanya asyik dalam pikiranku sendiri sambil memandangi Niall yang sedang mengunyah wortel yang masih belum habis. Sepertinya perlu waktu lama baginya untuk menghabiskannya. Aku yang malah geram dengan tingkahnya, tiba-tiba muncul pikiran jahilku. Aku mendorong-dorong wortel itu untuk masuk sepenuhnya ke mulut Niall. Niall meronta-ronta menyuruhku berhenti. Sampai-sampai dia tersedak. Aku tertawa bersama The Boys yang lain.
“Aku harus ke toilet dulu. Aku duluan guys” Aku permisi kepada yang lainnya. Saat aku berbalik, kepalaku dihantam oleh benda yang tidak terlalu keras tapi cukup menyakitkan. Aku menunduk memastikan benda tersebut. Saat kutolehkan kepalaku, benar saja Niall mencibirku. “Itu balasanku Lou!” teriaknya. Aku segera memungut wortel itu dan membuangnya ke tempat sampah.
***
Aku berada di ruang yang gelap. Gelap sekali. Sepertinya aku sudah pernah mengunjungi tempat ini. Tapi kapan? Aku berusaha mengingatnya. Seorang perempuan berambut panjang lurus berdiri di hadapanku. Sepertinya kami pernah bertemu. Saat aku hendak menghampirinya, ia menghilang. Entah kemana. Aku berjalan mengelilingi lingkaran kecil. Bingung. Itulah yang kurasakan. Pasrah, aku membenamkan wajahku di tanganku. Kulihat lagi sekeliling. Kudapati perempuan itu lagi. Dia menghampiriku. Meskipun wajahnya tak terlihat, tapi kuyakini wajahnya pasti cantik. Secantik bunga mawar yang tumbuh di antara bunga yang gersang. Aku menutup mataku. Di sana aku melihat huruf A. Huruf A untuk smart. Aku tidak yakin tapi bisa kurasakan wanita itu pintar. Karena kulihat memang seperti itu. Itu bisa dilihat dari mimpi ku kemarin malam. Kacamata. Aku membuka mataku untuk melihat perempuan itu lagi. Tapi yang kudapati hanyalah diriku terbaring di kasur. Lagi.
***
Aku sudah menemukan huruf G, R, dan A. Apa maksud dari semua ini. Aku berencana untuk menceritakan pada The Boys mengenai ini. Tapi rasa maluku mengurungkannya. Mereka akan tertawa. Apalagi Niall. Aku hanya bisa memukul kepalaku sebagai perintah bahwa ini akan baik-baik saja. All is well.
“Louis Tomlinson!!” teriak seseorang yang kuyakini Bu Emma. Terdengar dari suaranya yang killer itu. Kurasa gerak-gerikku lebih menonjol dibanding yang lainnya. “Apakah kau menyimak pelajaranku!?” tanyanya dengan mata yang membesar. Aku tidak berani menatapnya.
“Te-tentu saja. Trigonometri sangat menyenangkan” jawabku asal.
“Trigonometri?! Kita bahkan sedang mempelajari Geografi?!” Bu Emma menekan kata Geografi. Kurasa akan ada singa yang mengaum. Tapi daripada itu, kurasakan gelak tawa mereka jauh terdengar. Apalagi suara gelak tawa The Boys yang palig keras.
“Baiklah.. Jika kau bisa menjawab pertanyaanku, maka aku akan melepaskanmu. Tapi jika tidak, aku akan melepaskanmu... keluar” ancam Bu Emma menunjuk kerah pintu.
Aku hanya menelan ludah dengan susah payah. “Apa yang membuktikan bahwa bumu itu bulat?” Telunjuknya mengarah padaku. Membuatku bergidik ngeri. Tidak tahu apa yang harus kulakukan, kujawab maksudku. Aku hanya menggelengkan kepala.
***
Gadis ini berdiri di hadapanku lagi saat aku menutup pintu kelas. Tapi aku tidak mengindahkannya. Aku hanya lewat dengan tatapan yang dingin. Heran bagaimana dia bisa keluar kelas pada saat jam pelajaran. Apakah dia dihukum juga?
“Hei.. Lou..” sapanya. Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Hanya demi image-ku. Aku tidak ingin dinilai seseorang sebagai laki-laki yang angkuh. Saat aku berbalik, aku melihat ia menyerahkan sebuah kotak kecil kepadaku.
“Ini untukmu. Aku yakin kau sedang bosan” jawabnya setelah aku memberikan ekspresiku heranku. Aku hanya diam lalu memasukkan kotak kecil itu ke saku blazer sekolahku. Kemudian berlalu.
“Kau tahu?” aku terpaksa membalikkan tubuhku lagi saat ia mengeluarkan sepatah kalimat. “Yang membuktikan bumi itu bulat adalah ketika kita berjalan ke timur maka kita akan kembali lagi ke timur. Itu sudah dibuktikan oleh penjelajah dunia” katanya lagi. Ia tersenyum tipis padaku. Lalu membalikkan tubuhnya dan segera berlari. Gadis aneh. Pikirku.
Aku mendapati diriku diam mematung seperti orang bodoh. Ingin rasanya aku menanyakan.. bukan.. bukan mengenai asal darimana dia tahu mengenai ‘bumi itu bulat’ karena aku yakin dia memang pintar. You know.. nerd. Tapi lebih mengenai asal darimana dia tahu mengenai apa yang aku alami barusan. Masa bodoh, aku segera melupakan kejadian tadi dan bermaksud kembali ke tujuan awalku. Kantin.
Saat aku membalikkan badanku. Kudapati seorang gadis lagi. Tapi dia tidak memakai kacamata besar dan berkawat gigi.  Gadis ini lebih pantas disebut sebagai gadis yang sebenarnya. Kaki jenjang, brunette, dan hal-hal cantik lainnya. Aku berjalan menghampirinya. Dia Elle. Pacarku.
“Kau kenapa?” tanyaku saat kulihat wajahnya yang sedang gusar itu.
“Aku dimarahi Bu Diana karena memakai rok terlalu pendek. Apa menurutmu ini terlalu pendek?” Elle memperlihatkanku roknya yang hanya sebatas paha itu. Aku langsung membuang pandanganku. Takut pikiran kotorku keluar.
“Kau tetap cantik Elle” Aku menarik wajah Elle ke arahku. Aku tahu ini dilarang di sekolah. Tapi aku tidak dapat menahannya. Wangi parfum yang aku suka itu tercium di hidungku. Elle mulai menarik wajahku ke arahnya sehingga wajah kami hanya menyisakan beberapa inci. Ketika bibir kami hampir bersentuhan, sesuatu menyita perhatianku. Seorang peremuan mengintip dari balik dinding itu. Begitu tahu aku menangkapnya melihatku, ia segera berlari. Aku tidak yakin. Tapi sepertinya itu memang si nerd. Bisa terlihat dari kacamatanya yang berukuran besar itu. Aku langsung menjauhkan wajahku ke belakang. Mundur.
“Kau kenapa babe?” tanya Elle heran.
“Nothing, babe.. Ayo kita pergi dari sini” bujukku menggandeng tangannya.
***
Aku dan The boys berencana untuk ke arena futsal siang ini. Maka dari itu, aku bersiap memakai jersey favorite-ku. Manchester United. Aku sudah menelepon mereka untuk memakai jersey yang sama. Awas saja jika salah satunya tidak menuruti perintahku.
Cuaca yang cerah mengizinkan kami pergi ke luar. Meskipun matahari dengan teriknya memancarkan pesonanya. Kami tidak begitu memedulikan.
Sesampainya di halte bus, terkejutnya aku saat kulihat gadis itu berada di hadapanku lagi. Bedanya, dia tengah memeluk lututnya seraya mengeluarkan air mata. Matanya memerah. Begitu pula hidungnya. Aku tidak begitu memedulikannya. Lagipula itu bukan urusanku. Aku diajarkan orang tuaku untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Aku memerintahkan diriku sendiri untuk tidak mencari tahu.
“Dia gadis yang mengincarmu, Lou” Zayn berbisik padaku.
“Sudah biarkan saja, Zayn”
“Tapi dia menangis, Lou” bisik Niall yang tiba-tiba berada di sebelahku.
“Sudah kubilang biarkan saja, Niall”
“Coba kau hampiri dulu, Lou” timpal Liam.
“Oh.. Ya ampun aku tidak kuat melihat seorang gadis menangis” Harry memeluk Niall secara dramatis membuatku hanya menggeleng kepala.
“Heii.. lihat” Syukurlah bus berhenti di depan kami jadi aku tidak pelu repot-repot meladeni mereka. Kami melangkah memasuki bus. Segera bus melaju meninggalkan halte. Dari sini, kulihat gadis itu masih memeluk lututnya dengan mata yang masih berair. Entahlah. Ada sesuatu yang seolah menekan dadaku.
***
“We break up” aku menekan 3 kata itu supaya terdengar jelas di telinga Elle. Setelah sebelumnya dia merengek kepadaku untuk menarik ucapanku yang 3 kata itu. 
Kemarin kami dikalahkan tanpa balas oleh kelompok lawan kami yang memakai jersey Liverpool. Asal kalian tahu, Manchester United memang musuh dari Liverpool pada kenyataannya. Tapi kenapa harus kami yang kalah. Tentu saja aku tidak ingin menanggung malu. Aku berusaha mencari alasan kenapa kami bisa kalah. Dan salah satunya adalah perbandingan jumlah kelompok mereka lebih banyak dibandingkan kami. Bukan hanya itu saja yang membuatku kesal. Ternyata salah satu dari kelompok mereka yang kuyakini adalah leader-nya menjalin hubungan dengan pacarku Elle di belakangku. Jika kalian jadi aku, kalian pasti akan menghajar si lelaki itu. Tapi tidak denganku. Aku berusaha meminta penjelasan dari Elle. Ternyata janji jari kelingking hanyalah 2 buah jari kelingking yang saling mengait belaka tanpa ada unsur janji yang sebenarnya. 
“Tunggu, Lou!!” teriak Elle saat aku sudah berada di seberang koridor. Aku tidak perduli dengan orang-orang yang mulai memperhatikanku. Menyebutku sebagai laki-laki yang tidak punya perasaan. They don’t know the fact.
Aku membawa diriku sendiri ke gudang sekolah. Menyembunyikan tanganku di saku blazer seragamku ini. Hari ini sungguh dingin. Sedingin suasana hatiku. Kusalahkan hujan sebagai penyebabnya. Aku meraba benda asing di sakuku. Heran, aku segera mengeluarkannya dari sana dan kuamati. Memiringkan kepalaku sembari berpikir. Pernah kulihat kotak ini sebelumnya. Aku memaksakan diriku untuk mengulang kejadian kemarin-kemarin. Selang beberapa menit, baru kusadari bahwa kotak kecil ini adalah kotak yang diberikan oleh si nerd. Maksudku gadis dengan kacamata besar dan kawat giginya. Kotak berwarna coklat dengan ukiran bunga di atasnya. Dengan rasa penasaran yang berkecambuk, aku membuka kotak tersebut perlahan. Kudapati patung gadis kecil berdiri dan berputar sesuai dengan alunan lagu yang dikeluarkan dari dalam kotak ini. Di sana tersimpan secarik kertas berlipat-lipat kecil. Membuka lipatan-lipatan kecil itu dengan perlahan, munculah beberapa baris tulisan rapi yang kuyakini adalah tulisannya.

I Wish

She takes your hand
I die a little
I watch your eyes
And I’m in little
Why can’t you look at me like that

When you walk by
I try to say it
But then I freeze
And never do it
My tongue gets tight
The words can’t trade

I hear the beat of my heart getting louder
Whenever I’m near you
But I see you with her slow dancing
Tearing me apart
Cause you don’t see

Whenever you kiss her
I’m breaking,
Oh how I wish that was me

She looks at you
The way that I would
Does all the things, I know that I could
If only time, could just turn back
Cause I got three little words                                                                                                              That I’ve always been dying to tell you...
Aku membaca kata demi kata dengan mengerutkan keningku. Aku bisa membuat kesimpulan bahwa dia menyukaiku dan cemburu ketika aku bersama Elle. Sudah kuduga dia menaruh hati padaku. Bel masuk berdentang. Aku segera melipat-lipat kecil kertas itu dan menyimpannya di tempat semula. Baru kusadari jika gadis itu belum menunjukkan batang hidungnya hari ini.
***
Aku berada di tempat yang terang. Terang sekali. Aku sampai menutupi mataku dengan kedua tanganku menghalangi cahaya yang masuk. Aku mencoba menerka aku di mana. Detik itu juga, seorang gadis berambut lurus dan panjang menghampiriku. Dia terlihat berbeda. Sedih sekali. Dia memberikanku sejumlah permen. Aku meraihnya dan tersenyum. Entah kenapa aku juga merasakannya membalas senyumku.

Aku segera memeriksa tanganku. Tapi yang kudapati hanyalah tanganku yang sedang menggenggam. Tak tahu menggenggam apa. Ternyata aku terbangun lagi. Masih dengan mimpi yang sama. Kali ini gadis itu memberikanku permen. Aku mencoba menebak huruf apa selanjutnya. Permen diawali dengan huruf C dengan Candy. Pikirku. Jadi huruf selanjutnya adalah C?
***
Sepertinya otakku sudah mulai tidak waras. Kudapati diriku menunggu gadis itu. Aku juga tidak tahu apa yang merasukiku. Aku hanya ingin melihatnya memberikanku permen lolipop di sana dan tersenyum memamerkan kawat giginya itu. Tapi itu sepertinya tidak akan terjadi pagi ini. Karena dia tidak menunjukkan tanda-tanda dirinya.
Di seberang sana kulihat Elle sampai di sekolah. Sepertinya dia di antar oleh lelaki sama yang ber-jersey-Liverpool kemarin. Dilihat dari seragamnya, sepertinya dia bukan siswa sekolah ini. Tidak tahu kah dia jika aku ke sini mengandalkan kakiku di tengah hujan? Hanya saja hujannya sudah reda. Jika belum, aku akan berada di sana yang pertama kali menertawaimu dengan pacarmu yang kurang ajar itu basah kuyup
Aku memerhatikan seseorang yang sedari tadi berada di belakang Elle. Perlu waktu lama bagiku untuk menyadari jika dia adalah.. nerd? Tapi seseorang di sebelahnya lebih menyita perhatianku. Dia laki-laki yang juga nerd. Apakah seorang nerd juga berpacaran dengan seorang nerd? Aku memperhatikan mereka sampai mereka menghilang di balik belokan koridor itu. Yah.. itu bukan urusanku. Lebih baik urus dirimu sendiri Lou. Aku mulai memerintahkan diriku sendiri.
Seusai pelajaran, aku menghabiskan jam kosong dengan pergi ke kantin. Bersama dengan The Boys tentunya. Inilah kebiasaan kami setiap ada jam kosong. Sepanjang jalan, kami berpapasan dengan nerd perempuan dan nerd yang laki-laki. Gadis itu bahkan tidak mengindahkanku. Sontak Harry, Liam, Niall, dan Zayn menyerbuku dengan beribu kalimat.
“Dia sudah punya pacar, Lou..” seru Liam antusias.
“Kau bahkan kalah darinya Louis” timpal Zayn.
“Hahahahaahah” Niall tertawa cukup keras. Membuatku menutup telinga.
“Kau yang sabar, mate” tambah Harry merangkulku secara dramatis.
“Guys.. sekali lagi, itu bukan urusanku” Aku menggerak-gerakkan tanganku di udara seperti seorang pejabat yang melakukan orasi di depan rakyatnya. Tapi the boys malah merespon dengan tatapan menggoda. Menggodaku untuk mengatakan yang sesungguhnya.
Aku yang sudah tidak tahan, meninggalkan  mereka berempat yang sekarang saling menatap bergantian.
***
You’re so pretty whn you cry, when you cry
Wasn’t ready to hear you say goodbye..
Now you’re teraring me apart.. Tearing me apart..
You’re tearing me apart

You’re so London.. Your own style.. Your own style
We’re together. Its so good, so girl why..
Now you’re tearing me apart.. Tearing me apart..
You’re tearing me apart

Did I do something stupid.. Yeah girl if I blew it
Just tell me what I did lets work through it.
There’s gotta be some way to get you want me..
Like before...
Senandungku saat kurasakan tak ada lagi yang bisa kulakukan. Dengan petikan gitar dan suaraku-yang menurutku bagus- ini, lagu ini terdengar sempurna. Meskipun lagu ini memiliki makna yang mendalam. Jangan tanya aku apa maknanya.
Aku membenamkan wajahku di antara kedua pahaku. Mulai berpikir. G, R, A, C.. Huruf-huruf yang muncul di mimpiku. Aku mulai menerka huruf apa yang akan muncul selanjutnya. L, H, N atau mungkin Z? Ah.. Aku tidak sabar. Selang beberapa menit, baru kusadari, jiaka aku punya tugas Matematika. Dengan segera aku beranjak dari dudukku dan membuka resleting tasku. Mencari buku yang dimaksud. Tidak menemukan buku yang dimaksud, aku malah menemukan benda yang tidak seharusnya berada di tasku. Ratusan permen lolipop. Lolipop ini yang sering diberikan oleh gadis nerd itu padaku. Apakah ratusan lolipop ini diberikan oleh gadis yang sama? Sesaat handphoneku bergetar menandakan pesan masuk. Aku melihat ke layar dan mengerutkan kening. ‘Ku harap kau suka :DxxX’ seperti itulah yang tertulis. Aku bergidik ngeri. Aku membayangkan seorang gadis tidak terlihat memerhatikanku ku diam-diam, Tapi tak lama aku tersenyum. Senyum kali ini aku tidak mengerti artinya.
***
Aku tengah berada di suatu tempat. Tapi tempat kali ini tidak seburuk sebelumnya. Kalau sebelumnya tempat itu gelap dan terang, kali ini berbeda. Tempat ini berwarna pink. Apakah warna ini menandakan suasana hatiku? Aku memperhatikan sekelilingku. Mataku tertuju ke arah gadis yang selalu muncul dalam mimpiku itu. Rambut lurus dan panjang. Aku membalikkan badannya yang membelakangiku. Berbalik, dia memberiku secarik kertas berbentuk hati. Aku menerimanya. Dan kusimpan kertas itu di saku yang aku kenakan. Sesaat gadis itu hilang. Aku menutup mataku dan terkejut. Kudapati diriku berbaring di atas lantai.
***
Memperhatikan diriku melalui pantulan cermin, kurangkai huruf-huruf itu menjadi sebuah kata. Sembari berpikir, aku mendongakkan kepalaku. Kudapati diriku yang baru bangun tidur ini sedang berpikir tengah malam seperti orang bodoh. Hati berarti cinta. Cinta adalah Love. Love artinya diakhiri dengan huruf E. Jika kugabungkan menjadi satu, maka akan menjadi G, R, A,C,E..
GRACE???
***
            GRACE..
Aku terus menggumamkan 1 kata itu. Aku tidak tahu apa maksudnya.. Apakah ini nama seseorang yang tidak kuketahui selama ini? Entahlah.. Sikap dinginku ini membuatku kurang bergaul dengan murid-murid lainnya. Kurasa aku perlu mengurangi sikapku ini.
“Kau kenapa Lou? Kurang tidur?” tanya Harry memperhatikan mataku yang sembab. Seteah mimpi itu, aku tidak bisa memejamkan mataku lagi. Mungkin itu alasannya.
“I’m fine, Haz” jawabku tenang. Harry hanya menganggukkan kepala perlahan.
“Ayo, Guys.. Kita disuruh berbaris.. Ada yang ingin disampaikan oleh Bu Maddie” Niall mengumumkan. Kami segera beranjak ke tempat bisa kami berbaris.
“Sekolah kita baru saja memenangkan sebuah olimpiade Fisika” Aku sama sekali tidak menghiraukan pidato kepala sekolah. Aku hanya larut dalam cerita Niall mengenai kakaknya yang baru saja kemarin menikah. “Mari kita sambut.. Anak yang berprestasi tersebut” Semuanya bertepuk tangan menciptakan irama yang senada. Aku yang sedari tadi tidak tahu apa-apa hanya mengikuti. Tak lama, Nerd perempuan dan nerd laki-laki berdiri di podium menyampaikan pidato mereka. Baru kusadari bahwa mereka baru saja memenangkan sebuah olimpiade fisika. Hebat. Pikirku. Baru kusadari juga, aku melihatnya tanpa kedip. Perhatianku hanya berpusat padanya. Menyadarkan diriku, aku segera memandang arah lain. Kepala sekolah menyebut nama mereka masing-masing dengan bangganya. Dan baru kusadari juga bahwa gadis nerd itu mempunyai nama. Tapi.. tiba-tiba Aku bergeming mendengar namanya. Itu.... Nama yang kucari-cari..
Aku segera berlari setelah Kepala Sekolah menyudahi pidatonya. Mencari seorang perempuan. G untuk Glasses.. R untuk bRace, A untuk smArt, C untuk Candy, E untuk lovE. Semuanya jika digabungkan menjadi akan mengarah pada satu orang. Aku yakin ini adalah petunjuk dari Tuhan setelah sekian lama aku mengalami pengalaman pahit tentang cinta. Aku berhenti menyadari ikat sepatuku yang belum terikat. Tersadar bahwa inilah sebab langkahku melambat. Aku menundukkan badanku. Mengikatnya.
Tiba-tiba sebatang permen lolipop terangsur di depan wajahku.
“Hei.. Lou kau sudah sarapan” tanya seorang gadis memamerkan kawat giginya yang baru sekarang kusadari manis itu. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Entah karena pertanyaannya atau tanda bahwa aku sedang tidak percaya berhadapan dengannya. Ini yang kutunggu-tunggu.
Tak lama, gadis itu menyuruhku mengecek saku blazerku. Di sana kudapati secarik kertas yang begitu kubuka adalah secarik kertas berbentuk hati.
Aku segera mendongakkan wajahku dan mendapatinya memegang secarik kertas berbentuk hati. Sama denganku. Dia melepaskan kuncirannya dan mengibaskan rambutnya yang panjang dan lurus itu. Kemudian dia menarik lepas kacamata besarnya memperlihatkan matanya yang berwarna Hazelnut. Aku sampai membuka mulutku tak percaya.
“GRACE?!”

No comments:

Post a Comment